Perspektif Teori Kognitivisme dalam Dunia Digital

Perspektif Teori Kognitivisme dalam Dunia Digital

Syafaruddin (Pemerhati Pendidikan)--

Oleh: SYAFARUDDIN (PEMERHATI PENDIDIKAN)

Perubahan zaman bergerak begitu cepat. Ruang kelas hari ini tidak lagi dibatasi oleh empat dinding dan papan tulis. Siswa hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti—media sosial, video pendek, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan. Dalam hitungan detik, jawaban dapat ditemukan. Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah siswa benar-benar memahami, atau sekadar mengetahui?

Fenomena ini menunjukkan bahwa cara belajar siswa telah berubah drastis. Mereka terbiasa dengan informasi instan, visual cepat, dan ringkasan singkat. Konsentrasi cenderung lebih pendek, tetapi akses terhadap pengetahuan semakin luas. Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Di sisi lain, ada risiko lahirnya generasi yang kaya data namun miskin makna.

Dalam perspektif teori kognitivisme yang dipelopori oleh Jean Piaget dan dikembangkan oleh Jerome Bruner, belajar bukan sekadar menerima informasi, melainkan proses aktif membangun pemahaman. Pengetahuan baru harus dihubungkan dengan pengalaman lama melalui proses asimilasi dan akomodasi. Artinya, belajar adalah kegiatan berpikir, bukan sekadar menghafal.

Sayangnya, praktik pembelajaran kita sering masih berorientasi pada hasil akhir: nilai ujian, angka rapor, dan peringkat. Siswa dilatih mencari jawaban yang benar, tetapi belum tentu memahami alasan di balik jawaban tersebut. Padahal di era digital, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan lagi sekadar mengingat, melainkan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.

Kita menyaksikan siswa yang mampu menjelaskan definisi inflasi, tetapi kesulitan menganalisis kenaikan harga menjelang hari besar. Mereka hafal rumus, tetapi bingung menerapkannya dalam persoalan nyata. Ini menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan konseptual dan pemahaman kontekstual.

Pendekatan kognitivisme memberikan arah yang relevan bagi kondisi ini. Guru perlu menggeser peran dari pusat informasi menjadi fasilitator berpikir. Pembelajaran harus dirancang untuk merangsang pertanyaan, diskusi, dan pemecahan masalah. Siswa perlu dilatih bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, bukan hanya “apa”.

Sebagai contoh, dalam pelajaran ekonomi, siswa tidak cukup diminta menghafal teori permintaan dan penawaran. Mereka dapat diajak menganalisis fenomena kenaikan harga bahan pokok di pasar lokal. Dalam pelajaran bahasa, mereka tidak hanya memahami struktur kalimat, tetapi diajak menulis opini tentang isu sosial di lingkungannya. Dengan demikian, pembelajaran menjadi hidup dan bermakna.

Era digital sejatinya menyediakan peluang besar untuk memperkuat pembelajaran kognitif. Informasi yang melimpah dapat menjadi bahan diskusi kritis. Video, artikel, dan data statistik dapat dijadikan sumber analisis. Teknologi bukan musuh pendidikan, tetapi alat yang harus diarahkan untuk memperdalam pemahaman.

Namun, transformasi ini membutuhkan perubahan paradigma. Sekolah tidak boleh sekadar menjadi tempat transfer materi, tetapi ruang tumbuhnya daya nalar. Guru perlu diberi ruang kreativitas dan dukungan pengembangan profesional. Orang tua pun harus memahami bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari cara berpikir dan sikapnya terhadap masalah.

Lebih jauh, pendidikan harus mampu menyeimbangkan kecerdasan kognitif dengan karakter. Pemahaman tanpa integritas akan melahirkan kecerdikan tanpa tanggung jawab. Oleh karena itu, pembelajaran yang baik tidak hanya mengasah logika, tetapi juga membentuk kebijaksanaan.

Jika kita ingin menyiapkan generasi yang tangguh menghadapi perubahan global, maka yang harus diperkuat adalah fondasi berpikirnya. Dunia kerja masa depan membutuhkan individu yang mampu belajar ulang, beradaptasi, dan memecahkan persoalan kompleks. Semua itu berakar pada kemampuan kognitif yang matang.

Akhirnya, tantangan pendidikan hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan bagaimana mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Tugas kita bersama adalah memastikan siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pemikir yang mampu mengendalikan teknologi untuk kemaslahatan.

Sebab di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, yang akan bertahan bukanlah mereka yang paling banyak tahu, melainkan mereka yang paling mampu berpikir. Perubahan zaman bergerak begitu cepat. Ruang kelas hari ini tidak lagi dibatasi oleh empat dinding dan papan tulis. Siswa hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti—media sosial, video pendek, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan. Dalam hitungan detik, jawaban dapat ditemukan. Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah siswa benar-benar memahami, atau sekadar mengetahui?

Fenomena ini menunjukkan bahwa cara belajar siswa telah berubah drastis. Mereka terbiasa dengan informasi instan, visual cepat, dan ringkasan singkat. Konsentrasi cenderung lebih pendek, tetapi akses terhadap pengetahuan semakin luas. Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia dalam hitungan detik. Apa pun bisa dicari, apa pun bisa dijawab. Namun justru di tengah kemudahan itu, muncul tantangan besar dalam dunia pendidikan: siswa semakin cepat menemukan jawaban, tetapi belum tentu memahami maknanya.

Fenomena ini tampak jelas dalam keseharian. Banyak siswa mampu menjelaskan definisi, mengutip teori, bahkan merangkum materi dengan rapi. Namun ketika dihadapkan pada persoalan nyata yang membutuhkan analisis dan pertimbangan, mereka kerap kebingungan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kita masih terlalu fokus pada “apa yang diketahui”, bukan “bagaimana cara berpikir”.

Dalam teori kognitivisme yang diperkenalkan oleh Jean Piaget, belajar adalah proses aktif membangun pemahaman melalui pengalaman. Artinya, pengetahuan tidak sekadar ditransfer, tetapi diolah di dalam pikiran. Siswa harus mengaitkan informasi baru dengan pengalaman lama agar terbentuk pemahaman yang utuh. Jika proses ini tidak terjadi, maka yang lahir hanyalah hafalan jangka pendek.

Cara belajar siswa saat ini juga dipengaruhi oleh budaya digital. Mereka terbiasa dengan konten singkat, visual cepat, dan jawaban instan. Pola ini, jika tidak diarahkan, dapat mengikis daya tahan berpikir mendalam. Konsentrasi menjadi pendek, analisis menjadi dangkal, dan refleksi menjadi jarang dilakukan.

Padahal dunia masa depan membutuhkan kemampuan yang jauh lebih kompleks. Tantangan global, perubahan ekonomi, dan dinamika sosial tidak dapat diselesaikan dengan hafalan. Dibutuhkan nalar kritis, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah. Pendidikan harus merespons realitas ini.

Sekolah tidak boleh lagi hanya menjadi tempat penyampaian materi. Ia harus menjadi ruang dialog, eksplorasi, dan latihan berpikir. Guru perlu mendorong siswa untuk bertanya, berargumentasi, dan menguji gagasan. Evaluasi pun perlu bergeser dari sekadar pilihan ganda menuju tugas yang menuntut analisis dan refleksi.

Orang tua juga memiliki peran penting. Alih-alih hanya menanyakan nilai, mereka dapat mulai bertanya: “Apa yang kamu pelajari hari ini?” atau “Menurutmu mengapa hal itu terjadi?” Pertanyaan sederhana seperti ini dapat melatih anak untuk berpikir lebih dalam.

Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Namun kita bisa memastikan bahwa teknologi menjadi alat penguat daya pikir, bukan pengganti proses berpikir itu sendiri. Informasi yang melimpah harus dijadikan bahan untuk analisis, bukan sekadar konsumsi cepat.

Jika pendidikan mampu menumbuhkan generasi yang berpikir jernih, kritis, dan bertanggung jawab, maka kita tidak hanya menyiapkan siswa untuk lulus ujian, tetapi untuk menghadapi kehidupan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: