Di Mana Posisi Freelancer dalam Ekonomi Modern?
Di balik fleksibilitas kerja, freelancer menghadapi risiko besar dalam sistem ekonomi modern.--
BACA JUGA:Mengapa Freelance Disebut Pekerjaan Masa Depan?
Akibatnya, akses terhadap jaminan sosial, perlindungan ketenagakerjaan, dan kepastian hukum masih sangat terbatas.
Hingga kini, regulasi ketenagakerjaan di Indonesia masih lebih berpihak pada hubungan kerja konvensional.
Freelancer sering kali harus mengelola sendiri risiko kerja, mulai dari keterlambatan pembayaran hingga beban pajak dan asuransi.
Ketiadaan regulasi khusus membuat posisi tawar freelancer lemah di hadapan klien besar. Dalam ekonomi modern yang menuntut keadilan dan keberlanjutan, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah dan pembuat kebijakan.
BACA JUGA:Freelancer Digital Jadi Tulang Punggung Industri Kreatif
Meski menghadapi berbagai tantangan, peran freelancer diprediksi akan semakin menguat. Generasi muda cenderung memilih fleksibilitas dan otonomi kerja, sementara dunia usaha terus bergerak ke arah model kerja yang lebih adaptif.
Ekonomi modern tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada kantor fisik dan jam kerja tetap. Freelancer menjadi simbol perubahan tersebut, sekaligus penggerak ekonomi digital yang kian dominan.
Pertanyaan tentang posisi freelancer dalam ekonomi modern sejatinya bukan soal ada atau tidak, melainkan bagaimana negara dan pelaku industri memberi ruang yang adil.
Pengakuan formal, perlindungan sosial, dan kepastian hukum menjadi kunci agar freelancer tidak hanya menjadi roda penggerak ekonomi, tetapi juga bagian dari sistem yang sejahtera.
BACA JUGA:Mengulik Sistem Kerja Freelance yang Kian Diminati
Tanpa langkah konkret, ekonomi modern berisiko melahirkan pertumbuhan tanpa keadilan. Dan di titik itulah, nasib freelancer menjadi cermin sejauh mana negara hadir di tengah perubahan dunia kerja.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




