Penerimaan Negara Seret, Pemerintah Terhimpit Tekanan Fiskal
Rasio penerimaan terhadap PDB turun, fiskal RI tertinggal negara ASEAN-Ilustrasi: Canva@Budi Setiawan-
MEDIALAMPUNG.CO.ID — Kinerja penerimaan negara pada awal 2025 menghadapi tantangan serius. Hingga akhir April, total pemasukan negara tercatat sebesar Rp810,5 triliun.
Meski terlihat besar, realisasi tersebut menunjukkan perlambatan, khususnya dari sektor perpajakan yang menjadi penopang utama APBN.
Dari total tersebut, kontribusi pajak hanya menyentuh angka Rp557,1 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, terjadi penurunan tajam sekitar 10,74 persen.
Capaian ini pun baru memenuhi seperempat dari target tahunan yang telah ditetapkan pemerintah, memperlihatkan betapa beratnya beban fiskal yang tengah ditanggung.
BACA JUGA:Dana Desa Bisa Dipakai Legalkan Koperasi Merah Putih, Pemerintah Dorong Percepatan di Pelosok
Sementara itu, sektor kepabeanan dan cukai mencatatkan pemasukan sebesar Rp100 triliun. Namun, kinerja di lini Cukai Hasil Tembakau (CHT) menunjukkan gejala pelemahan.
Meskipun tarif terus dinaikkan setiap tahun, volume produksi rokok nasional justru terus menurun dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2022 tercatat 323,9 miliar batang rokok diproduksi, turun menjadi 318,1 miliar batang pada 2023, dan kembali melemah di 2024 menjadi 317,4 miliar batang.
Penurunan ini tak lepas dari kebijakan tarif yang dinilai terlalu agresif. Saat tarif melambung tinggi, justru konsumsi menurun, produksi menyusut, dan pada akhirnya penerimaan negara ikut tergerus.
BACA JUGA:Airlangga Siapkan Strategi Baru Dorong Ekonomi RI Lebih Maju
Fenomena ini sejalan dengan teori kurva Laffer, yang menggambarkan bahwa kenaikan tarif di titik tertentu akan menghasilkan efek sebaliknya terhadap pendapatan negara.
Kondisi fiskal semakin diperparah dengan turunnya kemampuan pemerintah dalam membelanjakan anggaran.
Pajak dan cukai yang menyumbang sekitar 77,5% terhadap total pendapatan negara menjadi indikator krusial. Ketika penerimaan ini lesu, ruang fiskal otomatis menyempit.
Pertumbuhan ekonomi pun ikut terdampak. Hingga kuartal pertama 2025, ekonomi nasional hanya tumbuh 4,87% secara tahunan, melemah dibanding capaian kuartal sebelumnya yang mencapai 5,02% dan 5,11%.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




