Program tersebut dirancang melalui delapan skenario utama. Pertama, eliminasi PLTU sebesar 12,48 GWp. Kedua, pembangunan PLTS skala besar melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebesar 30,97 GWp.
BACA JUGA:Karhutla Lampung Jadi Perhatian, Wagub Jihan Minta Sumber Air dan Peralatan Dipetakan
Ketiga, pengembangan PLTS terapung sebesar 10,72 GWp. Keempat, PLTS atap 9,35 GWp. Kelima, PLTS untuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) sebesar 0,50 GWp.
Selanjutnya, PLTS off-grid untuk kegiatan produktif sebesar 4,36 GWp, PLTS nonatap untuk kawasan industri sebesar 7,49 GWp, serta demand creation melalui hilirisasi, kendaraan listrik, kompor induksi dan kebutuhan lainnya sebesar 24,13 GWp.
Bahlil memperkirakan implementasi seluruh skenario tersebut dapat menurunkan emisi hingga 140 juta ton CO2 per tahun. Nilai ekonomi karbon yang dihasilkan diperkirakan mencapai Rp6,31 triliun.
"Kalau ini mampu kita implementasikan semuanya, kita dapat menurunkan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp6,31 triliun," ujar Bahlil.
BACA JUGA:Pasca Hujan Debu di PT Semen Baturaja, Warga Minta Kejadian Tak Berulang dan Tagih CSR
Berpotensi Ciptakan 5,5 Juta Lapangan Kerja
Selain mendukung ketahanan energi, Program PLTS 100 GWp diproyeksikan memberikan dampak ekonomi besar melalui penciptaan lapangan pekerjaan.
Bahlil menyebut program tersebut berpotensi menciptakan sekitar 5,5 juta lapangan kerja. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 3,465 juta tenaga kerja konstruksi dan 2,053 juta tenaga kerja manufaktur.
Pada tahap awal, pembangunan proyek PLTS juga diharapkan menghasilkan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) serta mendorong aktivitas ekonomi di daerah.
Total investasi program ini diperkirakan mencapai sekitar 71,3 miliar dolar AS atau setara Rp1.140 triliun. Dari sisi fiskal, program tersebut juga diproyeksikan mampu menghasilkan efisiensi subsidi hingga Rp73,9 triliun setiap tahun.
"Total investasi dari proyek ini kurang lebih sekitar 71,3 miliar USD, atau setara dengan Rp1.140 triliun. Dari total pekerjaan ini, kita bisa melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun mencapai Rp73,9 triliun," jelas Bahlil.
BACA JUGA:Musim Kemarau dan Polusi Udara, Dinkes Bandar Lampung Pantau Tren Kasus ISPA
PLN Siap Percepat Pengembangan PLTS