PayLater dan Ilusi Kemapanan Finansial: Kemudahan yang Perlu Diwaspadai Generasi Muda

Sabtu 04-04-2026,12:17 WIB
Reporter : Arif Setiawan
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Fenomena “beli sekarang, bayar nanti” atau Buy Now, Pay Later (BNPL) semakin marak di Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Layanan ini menawarkan akses kredit instan yang praktis tanpa prosedur serumit kartu kredit tradisional.

Berbagai platform seperti Shopee PayLater, Kredivo, dan Akulaku memungkinkan pengguna melakukan transaksi hanya dalam hitungan detik. Di satu sisi, hal ini mendorong inklusi keuangan dan meningkatkan daya beli masyarakat. 

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemudahan ini benar-benar meningkatkan kesejahteraan finansial, atau justru menciptakan persepsi semu tentang kemampuan ekonomi?

Data dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa pembiayaan PayLater mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan dominasi pengguna dari kelompok usia muda. 

BACA JUGA:Freelance dan Pertaruhan Masa Depan

Bank Indonesia juga mencatat bahwa perkembangan ekonomi digital menjadi pendorong utama meningkatnya penggunaan layanan kredit instan ini.

Namun, pertumbuhan tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan yang sehat. BNPL secara tidak langsung mengubah makna “mampu membeli”, dari yang semula berbasis ketersediaan dana menjadi berbasis akses terhadap utang. Akibatnya, seseorang bisa membeli sesuatu bukan karena memiliki uang, tetapi karena memiliki limit pinjaman.

Dari sudut pandang perilaku keuangan, fenomena ini berkaitan dengan present bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih mengutamakan kepuasan saat ini dibandingkan dampak jangka panjang. Skema cicilan ringan terutama yang diawali dengan bunga nol persen membuat beban utang terasa kecil. Ditambah lagi dengan mental accounting, di mana pembayaran bertahap membuat total pengeluaran tidak terasa secara utuh.

Risiko Penumpukan Utang dan Rendahnya Literasi Keuangan

BACA JUGA:Penyaluran KUR BRI Tembus Rp31,42 Triliun Awal 2026, Dorong UMKM dan Ekonomi Rakyat

Cicilan kecil yang terlihat ringan bisa berkembang menjadi beban besar jika tidak dikontrol. Hal ini menjadi semakin berisiko bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, yang masih berada dalam tahap awal pengelolaan keuangan dan belum memiliki pemahaman finansial yang kuat.

Kemudahan akses tanpa pengendalian diri dapat memicu perilaku konsumtif yang impulsif. Akibatnya, muncul kondisi paradoks: seseorang merasa lebih sejahtera karena mampu memenuhi keinginan, padahal secara finansial justru semakin rentan.

Secara subjektif, kesejahteraan mungkin terasa meningkat. Namun secara objektif, kondisi keuangan bisa memburuk menciptakan apa yang disebut sebagai “ilusi kesejahteraan finansial”.

Regulasi dan Pentingnya Edukasi Finansial

BACA JUGA:BRI Borong 3 Penghargaan Dealer Utama 2025, Perkuat Fondasi Pasar Keuangan Domestik

Kategori :