Jalan Putus Diterjang Banjir, Warga Gedungsurian Bangun Jembatan Bambu Darurat

Jumat 03-04-2026,11:20 WIB
Reporter : Rinto Arius
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Satu hari pasca bencana alam yang memutus badan jalan poros di Kecamatan Gedungsurian, Kabupaten Lampung Barat, warga Pemangku 4 Mekarsari, Pekon Gedungsurian, langsung bergerak cepat. Di tengah lumpuhnya akses utama akibat ambruknya gorong-gorong plat beton dan terkikisnya badan jalan, masyarakat setempat berinisiatif melakukan penanganan darurat agar jalur vital tetap dapat dilalui, meski hanya sementara.

Bencana tersebut terjadi setelah hujan deras berintensitas tinggi mengguyur wilayah itu pada Rabu, 1 April 2026, sekitar pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB. Curah hujan yang tinggi memicu meluapnya aliran Kali Way Lempung hingga menghantam gorong-gorong di jalur poros kecamatan.

Akibatnya, struktur gorong-gorong tidak mampu menahan derasnya debit air, lalu ambruk dan menyeret sebagian badan jalan hingga terputus. Kerusakan yang ditimbulkan cukup parah, dengan panjang ruas jalan yang terkikis mencapai sekitar 12 meter. Kondisi ini membuat kendaraan roda empat tidak dapat melintas sama sekali.

Sebagai jalur utama mobilitas masyarakat, putusnya jalan tersebut langsung berdampak besar terhadap aktivitas warga. Situasi ini memicu kepedulian kolektif, sehingga warga bergotong royong mencari solusi darurat.

Tokoh masyarakat Pekon Gedungsurian, Boimin, yang akrab disapa Mas Boi, menjelaskan bahwa kerusakan dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang menyebabkan aliran Kali Way Lempung meluap jauh di atas kondisi normal.

“Kerusakan gorong-gorong plat ini terjadi karena intensitas hujan sangat tinggi, sehingga aliran Kali Way Lempung meluap dan menghantam gorong-gorong. Akibatnya badan jalan terkikis cukup parah, bahkan panjang kerusakannya mencapai kurang lebih 12 meter,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Melihat kondisi jalan yang terputus total, warga tidak menunggu bantuan datang. Mereka segera membangun jembatan bambu sebagai akses sementara agar kendaraan roda dua tetap bisa melintas.

“Langkah darurat yang dilakukan warga adalah memasang jembatan bambu. Minimal kendaraan roda dua masih bisa melintas, karena ini jalan poros dan sangat dibutuhkan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari,” jelas Mas Boi.

Ia menegaskan bahwa jalan tersebut merupakan urat nadi mobilitas warga. Jika akses ini terputus dalam waktu lama, dampaknya akan meluas, mulai dari terganggunya distribusi hasil pertanian hingga terhambatnya akses layanan darurat.

Mas Boi juga menyebut bahwa BPBD Lampung Barat telah merespons cepat kejadian tersebut. Informasi awal sudah diteruskan ke pemerintah daerah dan instansi terkait untuk dilakukan peninjauan lapangan sebagai dasar penanganan lanjutan.

“Alhamdulillah, BPBD Lampung Barat sudah merespons kejadian ini. Kami mendapat informasi bahwa akan dilakukan peninjauan untuk tindakan selanjutnya. Bahkan masyarakat juga diarahkan untuk menyiapkan batang pohon kelapa, minimal 12 batang, untuk dijadikan jembatan darurat sementara,” katanya.

Menurut mantan Peratin Gedungsurian dua periode itu, ambruknya gorong-gorong plat beton diduga tidak hanya disebabkan oleh derasnya arus air, tetapi juga karena faktor usia bangunan yang sudah tua. Ia memperkirakan konstruksi tersebut telah berumur lebih dari 30 tahun dan tidak lagi mampu menghadapi perubahan cuaca ekstrem.

“Kemungkinan besar gorong-gorong plat beton itu ambruk karena memang usianya sudah tua, mungkin sudah di atas 30 tahun. Dulu mungkin masih cukup, tapi sekarang kondisi cuaca sudah berubah. Kali kecil yang biasanya tidak terlalu besar, sekarang bisa meluap dengan debit air yang sangat deras,” ungkapnya.

Ia pun berharap pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan sementara, tetapi menghadirkan solusi jangka panjang berupa pembangunan jembatan permanen agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kalau memang nanti pemerintah akan melakukan perbaikan atau pembangunan ulang, harapan kami jangan hanya gorong-gorong lagi. Sebaiknya dibangun jembatan permanen, supaya ke depan tidak terulang kejadian seperti ini. Karena kondisi alam sekarang tidak bisa diprediksi,” tegasnya.

Kategori :