MEDIALAMPUNG.CO.ID - Dunia kerja freelance kerap dipromosikan sebagai simbol kebebasan baru. Tanpa jam kantor yang mengikat, tanpa atasan yang terus mengawasi, dan dengan peluang penghasilan lintas negara, freelance seolah menjadi jawaban atas kejenuhan sistem kerja konvensional.
Namun di balik narasi kebebasan itu, tersembunyi ilusi yang sering kali luput disadari para pelakunya.
Banyak pekerja lepas merasa telah keluar dari jerat rutinitas, padahal mereka justru masuk ke pola kerja yang jauh lebih menuntut.
Jam kerja menjadi tidak terbatas, batas antara kehidupan pribadi dan profesional kabur, sementara tanggung jawab terus menumpuk tanpa perlindungan yang memadai.
BACA JUGA:Persaingan Ketat, Tantangan Freelance di Ekonomi Kreatif
Alih-alih bekerja delapan jam sehari, tidak sedikit freelancer yang harus bekerja dari pagi hingga dini hari demi memenuhi tenggat klien.
Kebebasan memilih waktu sering berubah menjadi kewajiban untuk selalu tersedia. Pesan masuk kapan saja, revisi datang tanpa henti, dan penolakan dianggap berisiko kehilangan proyek berikutnya.
Dalam kondisi ini, freelancer sejatinya tidak sepenuhnya bebas. Mereka tunduk pada algoritma platform, rating klien, serta persaingan harga yang ketat.
Ketika pasar dibanjiri tenaga kerja dengan skill serupa, posisi tawar pekerja lepas kerap melemah.
BACA JUGA:Freelance Jadi Jalan Aman di Tengah Dunia Kerja yang Goyang
Tidak adanya ikatan kerja formal membuat freelancer berada di area abu-abu. Upah yang tidak dibayar, kontrak sepihak, hingga perubahan kesepakatan di tengah jalan menjadi persoalan yang sering terjadi. Sayangnya, banyak freelancer memilih diam karena khawatir reputasi digitalnya terganggu.
Ketiadaan jaminan sosial, asuransi kesehatan, hingga kepastian pendapatan membuat kebebasan finansial yang dijanjikan terasa rapuh. Di sinilah ilusi itu bekerja: terlihat merdeka, tetapi sejatinya penuh ketidakpastian.
Jika tidak diatur dengan kesadaran penuh, freelance dapat berubah menjadi jebakan kelelahan kronis.
Manajemen waktu, batas kerja yang jelas, serta kemampuan menolak proyek yang tidak sehat menjadi keterampilan non-teknis yang wajib dimiliki.
BACA JUGA:Freelance Semakin Profesional, Ini Tanda-tandanya