Persaingan Ketat, Tantangan Freelance di Ekonomi Kreatif
Freelance harus naik kelas di tengah padatnya ekonomi kreatif.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Namun, di balik geliat tersebut, persaingan di sektor ini kian padat, terutama bagi para freelancer yang menjadikan industri kreatif sebagai ladang utama penghasilan.
Dari penulis, desainer, videografer, hingga digital marketer, semuanya kini berada dalam arena kompetisi yang semakin ketat.
Perkembangan teknologi digital telah membuka akses luas bagi siapa saja untuk masuk ke dunia ekonomi kreatif.
Platform daring, media sosial, dan marketplace jasa membuat pekerjaan kreatif tidak lagi eksklusif.
BACA JUGA:Freelance Semakin Profesional, Ini Tanda-tandanya
Dampaknya, jumlah freelancer melonjak signifikan, sementara klien memiliki lebih banyak pilihan dengan standar yang semakin tinggi.
Kondisi ini menjadikan freelance bukan sekadar soal bakat, tetapi juga strategi bertahan di tengah kepadatan pasar.
Kemudahan akses teknologi mendorong lahirnya talenta-talenta baru di sektor kreatif. Anak muda hingga profesional berpengalaman sama-sama memanfaatkan peluang ini untuk menawarkan jasa secara mandiri. Akibatnya, persaingan harga, kualitas, dan kecepatan kerja menjadi tak terhindarkan.
Freelancer kini tidak hanya bersaing dengan sesama lokal, tetapi juga dengan tenaga kreatif dari berbagai negara.
BACA JUGA:Freelance dan Perang Atensi di Dunia Digital
Globalisasi pasar jasa membuat standar kerja ikut naik, sekaligus menekan mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat.
Di tengah ekonomi kreatif yang semakin padat, kemampuan teknis menjadi syarat dasar, bukan keunggulan.
Klien mulai menilai dari aspek lain seperti konsistensi kualitas, komunikasi, pemahaman kebutuhan pasar, hingga kemampuan membangun brand personal.
Freelancer yang hanya mengandalkan satu keahlian tanpa pengembangan berkelanjutan berisiko tersingkir.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
