Fungsi hati biasanya dinilai melalui enzim seperti SGOT (AST) dan SGPT (ALT).
Peningkatan kadar enzim ini dapat menjadi tanda adanya peradangan atau gangguan pada sel hati.
Namun, kenaikan ringan tidak selalu berarti penyakit serius. Faktor seperti konsumsi obat tertentu, aktivitas fisik berat, atau kondisi sementara lainnya juga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan fungsi hati.
BACA JUGA:Daftar Jam Tangan Fossil Paling Diminati 2026 dan Kisaran Harganya
Pemeriksaan Fungsi Ginjal
Ginjal berperan menyaring limbah dan zat sisa metabolisme dari darah. Pemeriksaan ureum dan kreatinin digunakan untuk menilai kemampuan ginjal dalam menjalankan fungsi tersebut.
Nilai yang lebih tinggi dari batas normal dapat mengindikasikan gangguan fungsi ginjal.
Meski begitu, hasil tersebut tetap harus dikaji bersama riwayat medis, kondisi klinis, serta pemeriksaan penunjang lainnya agar interpretasinya tidak keliru.
BACA JUGA:BPJN Wilayah II Lampung Tambal Jalan Berlubang di Lampung Utara
Pentingnya Melihat Hasil Secara Menyeluruh
Kesalahan yang sering terjadi adalah menilai hasil laboratorium hanya dari satu parameter. Padahal, interpretasi medis selalu mempertimbangkan kombinasi hasil pemeriksaan, gejala yang dialami, riwayat penyakit, pola makan, hingga gaya hidup.
Kondisi seperti stres, kurang tidur, dehidrasi, hingga konsumsi obat tertentu juga dapat memengaruhi hasil tes darah.
Oleh karena itu, pendekatan yang menyeluruh sangat penting dalam membaca hasil laboratorium.
BACA JUGA:Saldo DANA Kaget Rp100 Ribu Jelang Munggahan 2026, Ini Penjelasan dan Cara Aman Klaim
Waspadai Perbedaan Satuan Pengukuran
Beberapa laboratorium menggunakan satuan berbeda seperti mg/dL atau mmol/L.