Freelance Berkembang Tanpa Perlindungan Negara

Jumat 13-02-2026,07:47 WIB
Reporter : Krisna Jeri
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Pertumbuhan dunia freelance di Indonesia terjadi dengan kecepatan yang sering kali melampaui kesiapan negara dalam merespons perubahan dunia kerja.

Ketika sistem ketenagakerjaan masih bertumpu pada pola lama yang kaku dan birokratis, jutaan pekerja justru bergerak sendiri, menciptakan ruang kerja baru di luar struktur formal.

Freelance tumbuh bukan karena dirancang secara matang oleh kebijakan, melainkan karena kebutuhan.

Minimnya lapangan kerja tetap, ketidakpastian ekonomi, serta gelombang digitalisasi memaksa banyak orang mencari jalan hidup di luar sistem yang ada. Dalam kondisi ini, negara terlihat tertinggal, sementara masyarakat melaju lebih cepat.

BACA JUGA:Waspada Pinjaman Online Ilegal: Kenali Tanda-Tandanya dan Melindungi Data Pribadi Anda

Sulit dipungkiri, regulasi ketenagakerjaan di Indonesia masih berorientasi pada hubungan kerja konvensional.

Konsep jam kerja tetap, kontrak jangka panjang, dan kantor fisik menjadi rujukan utama. Sementara itu, realitas di lapangan menunjukkan dunia kerja telah berubah secara radikal.

Freelance hadir mengisi kekosongan tersebut. Pekerja lepas tidak menunggu negara memberi solusi, mereka membangun ekosistemnya sendiri.

Platform digital, jejaring profesional, dan pasar global menjadi ruang baru yang memungkinkan siapa pun menjual keahlian tanpa harus bergantung pada lowongan kerja formal yang semakin sempit.

BACA JUGA:Bekerja Tanpa Kantor, Menghasilkan Tanpa Batas: Tren Freelance Indonesia

Ketidaksiapan negara terlihat dari minimnya perlindungan bagi pekerja freelance. Banyak dari mereka bekerja tanpa kepastian hukum, jaminan sosial, maupun standar upah yang jelas.

Namun, alih-alih berhenti, para freelancer justru mengembangkan strategi bertahan: membangun portofolio, memperluas klien, hingga mengatur sendiri sistem kerja dan penghasilan.

Fenomena ini menunjukkan daya lenting masyarakat yang tinggi. Ketika negara belum mampu menyediakan lapangan kerja yang memadai, masyarakat menciptakan peluangnya sendiri.

Freelance bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bentuk perlawanan sunyi terhadap sistem kerja yang tidak inklusif.

BACA JUGA:UMR Stagnan, Kreativitas Bergerak: Cerita di Balik Ledakan Freelancer

Kategori :