MEDIALAMPUNG.CO.ID - Ketakutan kehilangan pekerjaan menjadi bayang-bayang yang akrab bagi banyak pekerja hari ini.
Di tengah gelombang efisiensi, otomatisasi, dan perubahan arah industri, status karyawan yang dulu dianggap aman kini terasa rapuh.
Surat pemutusan hubungan kerja bisa datang tiba-tiba, tanpa memberi ruang persiapan mental maupun finansial.
Dari titik itulah banyak orang mulai dipaksa berpikir ulang tentang makna bekerja dan cara bertahan hidup.
BACA JUGA:Ketika Dunia Tak Menawarkan Kepastian, Karya Menciptakannya
Ketika rasa aman dari sistem mulai runtuh, sebagian memilih jalan sunyi: mengandalkan karya sendiri sebagai sandaran hidup.
Gaji bulanan dan jam kerja tetap pernah menjadi simbol kepastian. Namun realitas berubah. Banyak pekerja menyadari bahwa loyalitas bertahun-tahun tidak selalu sebanding dengan perlindungan ketika kondisi perusahaan memburuk. Ketakutan ini perlahan menggerus rasa percaya pada sistem kerja konvensional.
Di sisi lain, tekanan hidup terus meningkat. Biaya hidup naik, kebutuhan bertambah, sementara ruang untuk bertumbuh sering kali stagnan.
Kondisi ini mendorong lahirnya kesadaran bahwa menggantungkan hidup pada satu pintu saja adalah risiko besar.
BACA JUGA:Saat Mesin Masuk Dunia Kerja, Kreativitas Jadi Pembeda
Beranjak dari ketakutan, keberanian mulai tumbuh. Bukan keberanian tanpa ragu, melainkan keberanian yang lahir dari keterpaksaan dan refleksi panjang.
Keterampilan yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap pekerjaan kantor, perlahan naik kelas menjadi sumber penghidupan utama.
Menulis, mendesain, memotret, membuat video, hingga mengelola media sosial tidak lagi sekadar hobi.
Karya menjadi aset. Setiap proyek, sekecil apa pun, membangun kepercayaan diri bahwa nilai seseorang tidak semata ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kemampuan menghasilkan sesuatu yang bermakna.
BACA JUGA:Bekerja di Tengah Algoritma yang Tak Pernah Tidur