MEDIALAMPUNG.CO.ID - Gunung Fatule’u menawarkan pengalaman pendakian yang jauh dari kata biasa. Bukit batu menjulang dengan kemiringan ekstrem ini seolah menantang siapa pun yang ingin menapakinya, menghadirkan sensasi adrenalin sekaligus keindahan lanskap yang memikat.
Setiap langkah menuju puncaknya terasa berat, namun seluruh jerih payah tersebut terbayar lunas oleh panorama alam yang tersaji di ketinggian.
Secara administratif, Gunung Fatule’u berada di wilayah Desa Nunsaen, Kecamatan Fatule’u Tengah. Ketinggiannya mencapai sekitar 1.111 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu bukit batu paling mencolok di kawasan Kabupaten Kupang.
Dalam bahasa Dawan atau Atoin Meto, Fatule’u bermakna “batu keramat”, sebuah sebutan yang merepresentasikan kepercayaan lokal sekaligus aura tersendiri yang melekat pada gunung ini. Dari kejauhan, dinding batunya tampak kokoh dan angkuh, memperlihatkan karakter alam yang keras sekaligus memikat.
BACA JUGA:Pesona Air Terjun Tujuh Tingkat di Jantung Kalimantan Barat
Kepercayaan masyarakat setempat menyebutkan bahwa Gunung Fatule’u kerap menjadi penanda terjadinya peristiwa besar.
Longsoran batu yang jatuh dari puncak atau tebingnya diyakini sering mendahului kejadian penting berskala nasional, mulai dari wafatnya tokoh-tokoh besar hingga bencana alam besar di Indonesia. Cerita-cerita inilah yang memperkuat kesan mistis Fatule’u.
Namun, di balik narasi tersebut, gunung ini justru menyimpan pesona alam yang luar biasa dan menjadi magnet bagi para petualang serta pencinta wisata minat khusus.
Bagi pengunjung yang ingin mencapai puncak, penggunaan pemandu lokal sangat disarankan. Di kaki gunung hanya terdapat satu rumah yang dihuni penjaga kawasan, yang sekaligus menjadi penghubung bagi wisatawan untuk mendapatkan jasa pendamping.
BACA JUGA:Nasi Jagung: Pangan Tradisional Nusantara yang Sederhana dan Bergizi
Tak jarang, anak-anak setempat dengan penuh semangat menawarkan diri untuk menjadi penunjuk jalan. Salah satunya adalah Martin Suan, bocah lokal yang sudah sangat terbiasa mendampingi pendaki naik turun Fatule’u.
Dengan kelincahan dan pengalaman yang dimilikinya, ia mampu bergerak lincah melintasi batuan terjal yang bagi pendaki awam terasa menegangkan.
Waktu tempuh pendakian menuju puncak berkisar antara satu setengah hingga dua jam, bergantung pada kondisi fisik dan ritme perjalanan masing-masing pengunjung. Jalur yang dilalui didominasi bebatuan cadas dengan tingkat kemiringan ekstrem, bahkan di beberapa titik nyaris tegak lurus.
Medan seperti ini menuntut konsentrasi tinggi, keberanian, serta kesiapan mental. Kesalahan kecil dalam memilih pijakan dapat berakibat fatal, terlebih karena beberapa batu cukup licin dan rawan bergerak.
BACA JUGA:Plt Kadisdik: Wisata Rohani PGRI Bentuk Apresiasi, Bukan Pemborosan