BACA JUGA:Realisasi Investasi di Lampung Barat Tembus Rp206 Miliar
“Pemerintah tidak tinggal diam. Saat ini telah terbit Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang akan mulai berlaku pada Maret 2026. Aturan ini mengatur penggunaan gawai dan media sosial bagi anak, memperkuat peran orang tua, serta mewajibkan platform digital ikut melindungi anak-anak,” jelasnya.
Meski demikian, Jihan menegaskan bahwa regulasi saja tidak cukup tanpa keterlibatan aktif keluarga dan sinergi lintas sektor.
Oleh karena itu, pelatihan AI Ready ASEAN bagi orang tua dinilai sangat relevan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap teknologi AI secara bertanggung jawab.
“Saya berharap setelah mengikuti kegiatan ini, Bapak dan Ibu tidak hanya membawa sertifikat, tetapi juga semangat untuk berbagi pengetahuan dan menerapkannya dalam mendidik anak, keluarga, sekolah, hingga lingkungan sekitar,” katanya.
BACA JUGA:Bapenda Lampung Petakan 240 Perusahaan, Target Pajak Alat Berat 2026 Naik 100 Persen
Sementara itu, Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, menyampaikan bahwa teknologi AI memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat, namun juga mengandung risiko yang perlu dipahami dan dimitigasi bersama.
“Kita harus siap memetik manfaat AI sekaligus siap mengelola risikonya. Tidak mungkin kita hanya ingin manfaatnya tanpa memahami potensi dampaknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kerangka program AI Ready ASEAN dirancang untuk membantu guru, orang tua, dan siswa agar mampu menghadapi perkembangan AI secara seimbang dan bertanggung jawab.
Pada kesempatan yang sama, Project Manager AI Ready ASEAN, Diera Gala Paksi, menyampaikan bahwa program AI Ready ASEAN merupakan inisiatif regional yang digagas oleh ASEAN Foundation dan didukung oleh google.org. Program ini menargetkan menjangkau 5,5 juta individu di 10 negara ASEAN.
BACA JUGA:Kaya Antioksidan, Ini Khasiat Kayu Manis untuk Kesehatan Kulit
“Program ini tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga training of trainers, pembelajaran mendalam, serta riset untuk mengukur kompetensi guru, orang tua, dan siswa di seluruh kawasan ASEAN,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat tidak memandang AI sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup.
“Silakan belajar dan mengenal AI lebih jauh. Kami berharap AI justru dapat membantu pekerjaan Bapak dan Ibu ke depan serta menghapus stigma negatif terhadap teknologi ini,” pungkasnya.