Bentuk dan Tampilan
Keunikan Jaja Bendu terletak pada bentuknya yang sederhana namun sarat makna. Kue ini biasanya dibentuk memanjang atau dilipat dengan teknik tertentu sebelum dikukus.
Tampilan luarnya cenderung polos tanpa hiasan mencolok, mencerminkan filosofi hidup masyarakat Bali yang menjunjung tinggi keseimbangan dan kesederhanaan.
Dalam penyajian upacara adat, Jaja Bendu sering disusun rapi bersama jajanan tradisional Bali lainnya seperti jaja uli, jaja laklak, dan jaja begina.
BACA JUGA:Rekomendasi Smartwatch Andalan untuk Aktivitas Golf
Proses Pembuatan Tradisional
Pembuatan Jaja Bendu umumnya masih mempertahankan cara-cara tradisional. Tepung beras dicampur dengan air dan sedikit garam hingga membentuk adonan yang kalis.
Kelapa parut dan gula merah diolah sebagai isian atau campuran, kemudian adonan dibentuk sesuai ciri khas Jaja Bendu.
Setelah dibentuk, kue dikukus hingga matang. Teknik mengukus dipilih karena dianggap mampu menjaga kesucian makanan sekaligus mempertahankan rasa alami dan tekstur lembut dari bahan-bahan yang digunakan.
BACA JUGA:KUR BRI Jadi Solusi Permodalan UMKM di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Nilai Filosofis
Lebih dari sekadar jajanan, Jaja Bendu memiliki nilai simbolik yang mendalam.
Kesederhanaan bahan dan bentuknya melambangkan kerendahan hati, sementara perpaduan rasa manis dan gurih mencerminkan harapan akan kehidupan yang seimbang antara suka dan duka.
Nilai-nilai inilah yang membuat Jaja Bendu tetap dipertahankan dalam tradisi Bali hingga kini.
BACA JUGA:Peluang Peringatkan Ancaman Akun Telegram Palsu Berkedok Investasi
Eksistensi di Era Modern