Tidak jarang, mereka bekerja dari pagi hingga larut malam demi memenuhi deadline beberapa klien sekaligus.
Tanpa batasan jam kerja yang jelas, kondisi ini bisa memicu stres, kelelahan kronis, dan burnout.
Masalah lain yang sering dialami freelancer adalah klien yang sulit diajak bekerja sama. Mulai dari revisi berkali-kali, perubahan brief mendadak, hingga pembayaran yang molor bahkan hilang tanpa jejak.
Tidak adanya kontrak yang kuat membuat freelancer berada pada posisi lemah. Beberapa klien memanfaatkan celah ini untuk menghindari pembayaran pekerjaan yang sudah diselesaikan.
BACA JUGA:Skill Freelance yang Akan Meledak di 2026: Siapkah Anda?
Dunia freelance bergerak cepat. Freelancer dituntut untuk terus mengasah kemampuan, mempelajari tools baru, hingga meningkatkan kualitas pekerjaan agar tetap kompetitif.
Tekanan ini kerap membuat freelancer merasa perlu belajar tanpa henti, bahkan di luar jam kerja, sehingga memperburuk keseimbangan hidup.
Bekerja sendirian di rumah atau co-working space mengurangi interaksi sosial yang biasanya didapatkan di lingkungan kantor.
Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi kesehatan mental dan membuat beberapa freelancer merasa terisolasi.
BACA JUGA:Simulasi Pinjaman KUR BRI Rp 250 Juta untuk UMKM, November Syarat, Bunga, dan Angsuran
Meski memiliki banyak tantangan, dunia freelance tetap menawarkan peluang besar bila dijalani dengan strategi tepat.
Freelancer perlu membuat manajemen waktu, menetapkan harga yang adil, melakukan kontrak kerja, serta memperkuat jejaring profesional.
Pada akhirnya, pekerjaan freelance bukan hanya tentang kebebasan, tetapi juga kemampuan mengelola risiko dan menjaga keberlanjutan.