Ketika PHK Datang Tanpa Permisi, Kreativitas Menjadi Satu-Satunya Modal
Saat sistem kerja rapuh, kreativitas jadi kunci bertahan.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) datang tanpa aba-aba. Dalam hitungan hari, bahkan jam, status karyawan bisa berubah menjadi pengangguran.
Bagi banyak orang, PHK bukan sekadar kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan rasa aman, identitas, dan rencana hidup yang telah disusun bertahun-tahun.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan industri, kreativitas perlahan muncul sebagai satu-satunya modal yang tersisa.
Bukan ijazah, bukan jabatan, melainkan kemampuan bertahan, beradaptasi, dan menciptakan nilai dari diri sendiri.
BACA JUGA:Dari Render Lama ke Transfer Cepat, Realita Dunia Freelance Video
PHK massal yang terjadi di berbagai sektor menunjukkan satu hal penting: pekerjaan formal tidak lagi sepenuhnya menjamin stabilitas.
Perusahaan bisa runtuh oleh perubahan pasar, efisiensi, atau transformasi digital. Karyawan yang sebelumnya merasa aman pun ikut terdampak.
Bagi pekerja usia produktif, situasi ini terasa semakin berat. Tanggung jawab hidup terus berjalan, sementara lapangan kerja justru menyempit.
Banyak dari mereka dipaksa memikirkan ulang arti bekerja dan bertahan hidup di tengah sistem yang cepat berubah.
BACA JUGA:Freelance Kreatif dan Harga Sebuah Mimpi
Dalam kondisi seperti ini, menunggu panggilan kerja baru bukan selalu pilihan realistis. Waktu terus berjalan, kebutuhan hidup tidak bisa ditunda.
Ketika pintu kerja formal tertutup, kreativitas menjadi jalan alternatif. Banyak korban PHK mulai menggali ulang kemampuan yang sebelumnya hanya dianggap hobi atau keterampilan sampingan.
Menulis, desain grafis, fotografi, video editing, memasak, hingga mengelola media sosial perlahan berubah menjadi sumber penghasilan.
Kreativitas memberi ruang untuk menciptakan peluang, bukan sekadar menunggu kesempatan. Dunia digital mempercepat proses ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
