Estetika Ukiran dan Simbolisme
Keindahan arsitektur Majapahit tak lepas dari seni ukir yang menghiasi dinding, pintu, maupun furnitur di dalam rumah. Motif yang digunakan banyak terinspirasi dari alam, seperti bunga teratai yang melambangkan pencerahan, atau hewan mitologis seperti naga dan garuda yang menggambarkan kekuatan serta perlindungan.
Selain itu, terdapat pula ornamen berbentuk kala, yaitu wajah raksasa penjaga yang dipercaya mampu menolak roh jahat dan melindungi penghuni rumah.
Motif-motif ini tidak hanya berfungsi estetika, tetapi juga menyimpan makna religius dan filosofis yang mendalam. Setiap ukiran menjadi wujud doa dan simbol harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.
BACA JUGA:Kerajaan Islam Pertama di Indonesia: Perlak atau Samudera Pasai
Teras dan Pendopo sebagai Ruang Sosial
Teras dan pendopo memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Majapahit. Teras berfungsi sebagai penghubung antara bagian luar dan dalam rumah. Dari sinilah aktivitas sosial berlangsung — mulai dari menyambut tamu hingga mengadakan kegiatan keluarga.
Pendopo sendiri merupakan ruang terbuka beratap tanpa dinding yang menonjolkan rasa kebersamaan dan keterbukaan.
Dalam konteks budaya Jawa, pendopo menjadi simbol keseimbangan antara dunia pribadi dan dunia sosial, tempat manusia berinteraksi tanpa sekat namun tetap menjaga kesopanan serta tata krama.
BACA JUGA:3 Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Masih Terjaga Hingga Kini
Karakteristik Furnitur Zaman Majapahit
Furnitur pada masa Majapahit dibuat dari bahan alami seperti kayu jati, bambu, dan rotan. Kayu jati yang kuat dan tahan lama sering digunakan untuk membuat kursi, meja, dan tempat tidur di lingkungan kerajaan. Furnitur cenderung rendah, menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Jawa yang sering duduk bersila atau lesehan.
Di rumah rakyat biasa, tikar bambu menjadi perabot multifungsi yang digunakan untuk duduk, tidur, atau alas bekerja. Semua elemen furnitur menampilkan kesederhanaan, namun tetap artistik berkat sentuhan tangan pengrajin lokal yang piawai membuat ukiran dan anyaman.
Pemilihan bahan alami tidak hanya karena ketersediaannya, tetapi juga mencerminkan falsafah hidup masyarakat yang selaras dengan alam. Prinsip ini menunjukkan bahwa keindahan sejati lahir dari keseimbangan antara fungsi, seni, dan lingkungan.
BACA JUGA:Tari Topeng Malang: Warisan Seni Majapahit yang Tetap Hidup hingga Kini
Para Seniman dan Perajin