Kitab Sutasoma Karya Mpu Tantular: Warisan Luhur dari Masa Keemasan Majapahit

Minggu 02-11-2025,18:02 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Di antara peninggalan sastra paling berharga dari zaman kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, Kitab Sutasoma menempati posisi yang sangat penting. 

Karya ini menjadi simbol kebijaksanaan dan perdamaian, serta menyimpan ajaran moral yang tetap relevan hingga kini. 

Ditulis oleh Mpu Tantular pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, kitab ini juga menjadi sumber lahirnya semboyan nasional Indonesia, “Bhinneka Tunggal Ika”, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

BACA JUGA:Mengenal Kerajaan Majapahit dan Peninggalannya yang Mendunia

Asal-usul Kitab Sutasoma

Kitab Sutasoma ditulis pada abad ke-14, ketika Majapahit mencapai masa keemasan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pada masa itu, kehidupan politik, ekonomi, dan kebudayaan berkembang pesat, termasuk di bidang kesusastraan.

Mpu Tantular, sang pengarang, adalah seorang pujangga istana yang memiliki pandangan luas dan hati penuh welas asih. Ia dikenal karena kemampuannya menggabungkan nilai-nilai ajaran Buddha dan Hindu secara harmonis. Melalui karyanya, ia menyampaikan pesan perdamaian, cinta kasih, serta penghormatan terhadap perbedaan keyakinan.

Kitab ini ditulis menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan aksara Bali, dan disalin di atas lembaran daun lontar. Secara keseluruhan, teksnya terdiri dari 1.210 bait dalam 148 pupuh. Panjang dan kedalaman isi kitab menunjukkan betapa luas pemikiran serta wawasan spiritual Mpu Tantular terhadap kehidupan manusia dan moralitas.

BACA JUGA:Ukiran Jepara: Warisan Abadi Sungging Prabangkara dari Zaman Majapahit

Kisah Pangeran Sutasoma

Cerita utama dalam kitab ini berpusat pada tokoh Pangeran Sutasoma, putra Prabu Mahaketu dari Kerajaan Astina. Berbeda dari kebanyakan pangeran yang berambisi menjadi raja, Sutasoma justru menolak kekuasaan duniawi.

Sejak muda, ia lebih tertarik mempelajari ajaran kebijaksanaan dan menempuh jalan menuju pencerahan batin menurut ajaran Buddha Mahayana.

Ketika tiba waktunya naik tahta, Sutasoma memilih pergi meninggalkan istana untuk mencari kebenaran sejati. Ia melakukan perjalanan menuju hutan dan gunung, bertapa di tempat-tempat suci untuk memperdalam dharma. 

Dalam pengembaraannya itu, ia menghadapi berbagai rintangan yang menggambarkan perjuangan manusia dalam menaklukkan ego, keserakahan, dan hawa nafsu.

BACA JUGA:Warisan Kebudayaan Majapahit yang Masih Hidup di Indonesia Modern

Kategori :