Sejarah dan Keunikan Sasando, Instrumen Tradisional Indonesia dari Pulau Rote
Sasando, mahakarya alat musik tradisional khas Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, yang memadukan estetika anyaman daun lontar dan resonansi bambu-Ilustrasi Gemini AI-
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Keberagaman seni dan budaya Indonesia kembali memancarkan pesonanya melalui sasando, alat musik petik tradisional asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di tengah derasnya arus modernisasi saat ini, sasando tetap eksis menjadi identitas luhur yang tak terpisahkan bagi peradaban masyarakat Rote. Keunikan bentuk fisik yang khas serta resonansi suara merdunya terus memikat perhatian para penikmat seni, baik di kancah nasional maupun panggung internasional.
Dalam rutinitas kehidupan sosial masyarakat Rote, instrumen ini memegang peranan vital yang melampaui sekadar sarana hiburan semata. Sasando merupakan elemen krusial dalam berbagai ritual dan upacara adat yang sakral.
Alat musik ini senantiasa hadir mengiringi tarian tradisional, lantunan syair kuno, hingga perayaan penting daerah. Kehadirannya menjadi simbol nyata dari hubungan harmonis antara manusia, kekayaan alam sekitar, dan warisan leluhur nusantara.
BACA JUGA:KUR BRI 2026: Pinjaman Rp500 Juta, Angsuran Mulai Rp10 Jutaan per Bulan
Makna Filosofis di Balik Nama Sasando
Secara etimologis, instrumen petik kebanggaan bangsa ini awalnya lebih dikenal oleh penduduk lokal dengan sebutan "sasandu".
Istilah tersebut berakar dari bahasa daerah setempat, yakni kata "sandu" atau "sanu" yang memiliki arti harfiah bergetar.
Makna ini merujuk langsung pada proses mekanis bunyi yang tercipta akibat getaran dawai saat jemari sang pemain memetiknya.
BACA JUGA:Baru 10 Ribu ASN Aktif Coretax, Sekda Lampung Marindo Minta OPD Percepat Pelaporan SPT
Getaran resonansi inilah yang menghasilkan alunan nada lembut dan sangat menenangkan jiwa pendengarnya.
Seiring berjalannya waktu, terjadi pengulangan penyebutan menjadi sandu-sandu dalam percakapan sehari-hari masyarakat Pulau Rote.
Istilah ini kemudian mengalami asimilasi bahasa pelafalan dan berkembang menjadi sasando seperti yang kita kenal sekarang.
Nama sasando ini secara filosofis dimaknai sebagai bunyi getaran merdu yang terjadi secara konstan dan berulang-ulang. Penamaan ini menjadi bukti kuat betapa eratnya alat musik tersebut dengan konsep harmonisasi bunyi dan alam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
