Tradisi dan Filosofi di Balik Jenang Ayu Niten Yogyakarta

Jumat 31-10-2025,06:03 WIB
Reporter : Linda Kurniati
Editor : Budi Setiawan

Cita Rasa dan Keunikan

Cita rasa Jenang Ayu Niten sangat khas, yaitu perpaduan manisnya gula jawa dan gurihnya santan yang berpadu sempurna. 

Teksturnya yang kenyal namun lembut di lidah menjadikannya disukai oleh berbagai kalangan, baik anak-anak maupun orang tua. 

Warna cokelat keemasan dari gula merah memberikan tampilan yang menggugah selera sekaligus alami tanpa bahan pewarna.

BACA JUGA:Cabuk Rambak Solo: Kuliner Sederhana dengan Rasa Autentik Khas Jawa Tengah

Keunikan lain dari jenang ini adalah penyajiannya yang masih menggunakan cara tradisional. 

Jenang biasanya dibungkus dengan daun pisang yang menambah aroma harum alami serta menjaga keaslian cita rasa. 

Dalam beberapa acara adat, jenang juga dibentuk dalam wadah kecil atau nampan besar sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

BACA JUGA:Sejarah Tiwul: Pangan Lokal Pengganti Nasi dari Gunungkidul

Pelestarian dan Nilai Budaya

Hingga kini, Jenang Ayu Niten tetap menjadi ikon kuliner khas Gamping, Sleman. Banyak warga yang mempertahankan cara pembuatan tradisionalnya sebagai bentuk pelestarian budaya. 

Setiap tahun, masyarakat Dusun Niten juga mengadakan kegiatan Festival Jenang Ayu Niten, di mana berbagai jenis jenang dipamerkan dan dibagikan kepada pengunjung sebagai wujud rasa syukur dan pelestarian tradisi leluhur.

Lebih dari sekadar makanan, Jenang Ayu Niten merupakan simbol keharmonisan, ketulusan, dan rasa syukur masyarakat Jawa. 

Setiap suapan menghadirkan makna mendalam tentang kebersamaan dan kearifan lokal yang terus dijaga lintas generasi.

Kategori :