Festival ini menampilkan teater rakyat, tari tradisional, serta berbagai ritual budaya sebagai penghormatan terhadap legenda yang melekat pada danau ini.
Tradisi lain yang masih dijaga adalah upacara larung sesaji, yaitu ritual melepaskan sesaji ke tengah danau sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil bumi sekaligus doa keselamatan bagi masyarakat.
Upacara ini biasanya dilaksanakan oleh komunitas nelayan dengan penuh kekhidmatan.
BACA JUGA:Bintan, Pulau Eksotis dengan Pesona Wisata Dunia
Agar kunjungan semakin berkesan, wisatawan disarankan datang pada pagi hari saat cuaca cerah dan kabut masih tipis menyelimuti perairan.
Jika hendak berkeliling menggunakan perahu, mengenakan pelampung merupakan langkah bijak demi keselamatan.
Menjaga kebersihan juga menjadi hal penting, sehingga setiap pengunjung diharapkan tidak membuang sampah sembarangan.
Bagi pencinta fotografi satwa, membawa lensa tele akan sangat membantu menangkap momen burung-burung liar yang beterbangan di sekitar danau.
BACA JUGA:Mandalika, Surga Wisata Alam dan Budaya di Ujung Selatan Lombok
Rawa Pening bukan sekadar sebuah destinasi wisata, tetapi juga simbol keterikatan antara manusia, alam, dan warisan budaya. Di balik hamparan airnya yang luas, tersimpan kisah mistis yang terus diceritakan lintas generasi serta ekosistem yang memberi kehidupan bagi masyarakat.
Kombinasi antara panorama alam, kekayaan ekologi, dan tradisi yang tetap terjaga menjadikan Rawa Pening layak disebut sebagai permata di lereng Ungaran.
Datanglah bukan hanya untuk menikmati keindahannya, melainkan juga untuk merasakan denyut kehidupan yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Rawa Pening adalah bukti nyata bahwa alam dan legenda bisa berpadu menciptakan pengalaman wisata yang tak terlupakan.(*)