Salah satu keunikan wisata Gua Kampret adalah keterlibatan langsung masyarakat sekitar dalam aktivitas pariwisata.
Warga berperan sebagai pemandu, penyedia jasa transportasi lokal, hingga pemilik warung kecil dan homestay sederhana.
Model ini tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.
BACA JUGA:Nyeri di Lengan Setelah Imunisasi? Ini Penyebab dan Cara Atasinya
Masyarakat Bukit Lawang memang sudah lama dikenal sebagai komunitas yang terbuka terhadap wisatawan, terutama karena kawasan ini menjadi salah satu gerbang utama menuju Taman Nasional Gunung Leuser.
Pengelolaan wisata berbasis masyarakat membuat pengunjung merasa lebih aman dan nyaman.
Melihat keunikan dan potensi Gua Kampret, destinasi ini sangat mungkin dikembangkan menjadi wisata berkelanjutan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.
Edukasi konservasi bisa dikemas secara menarik sebagai bagian dari paket wisata, tanpa mengurangi sisi petualangan yang ditawarkan.
BACA JUGA:Raksasa Laut BYD Zhengzhou Tiba di Jakarta, Bawa Ribuan Mobil Listrik
Dengan menjaga kelestarian alam, membatasi jumlah kunjungan dalam satu waktu, serta terus melibatkan masyarakat lokal, Gua Kampret bisa menjadi ikon wisata baru di Sumatera Utara.
Kombinasi antara fenomena cahaya, keunikan gua karst, dan kehidupan liar di dalamnya membuat destinasi ini tak kalah dengan gua-gua terkenal lainnya di Indonesia.
Gua Kampret bukan sekadar objek wisata, melainkan jendela untuk memahami keajaiban alam secara lebih dekat.
Bagi siapa pun yang ingin menjelajah sisi lain Sumatera Utara, gua ini menawarkan pengalaman yang otentik, mendalam, dan tak terlupakan.(*)