Desa Liya Togo juga menerapkan konsep CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability) demi menjaga kualitas pengalaman wisatawan yang menginap.
Soal kuliner, desa ini punya banyak sajian khas yang sulit ditemui di daerah lain. Perangi, misalnya, adalah sajian ikan segar yang mirip sashimi khas Wakatobi.
Ada pula karasi, makanan berbahan tepung beras yang diolah menyerupai mie kering, serta olahan ikan Dole yang teksturnya menyerupai nugget.
BACA JUGA:Rammang-Rammang, Pesona Karst Megah di Utara Makassar
Selain itu, wisatawan bisa mencoba hegule, hesoami, hingga jus sampalu yang menyegarkan. Sebagai oleh-oleh, wisatawan dapat membawa pulang soami, keripik ikan, keripik singkong, hingga sirup tangkulela dengan cita rasa unik.
Semua dibuat oleh tangan-tangan terampil ibu-ibu desa yang mewarisi resep tradisional turun-temurun.
Tak hanya terkenal dengan kuliner, Desa Liya Togo juga menjadi pusat kerajinan tangan. Warga desa mahir menenun kain homoru, yang bisa dijadikan selendang, sarung, hingga ikat kepala.
Selain tenun, ada produk anyaman tikar berbahan daun pandan, tas unik dari bahan daur ulang, serta Katu Bangko atau tudung saji dengan desain estetik. Kerajinan ini tak hanya menjadi suvenir, tetapi juga simbol identitas budaya setempat.
BACA JUGA:Eksplorasi Pesona Alam dan Budaya Jawa Timur
Menjelajahi Desa Liya Togo tak sekadar memotret keindahan laut dan bangunan tua. Lebih dari itu, wisatawan diajak menyelami kearifan lokal, merasakan keramahan penduduk, dan menikmati tradisi yang tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Perpaduan pesona alam, sejarah panjang, dan budaya yang tetap lestari membuat Desa Liya Togo menjadi destinasi yang patut diperhitungkan di Wakatobi. Tak heran jika banyak wisatawan jatuh hati dan memutuskan untuk kembali.(*)