Perkenalan dunia luar terhadap Bali juga tak lepas dari kehadiran tokoh-tokoh asing yang tinggal di pulau ini pada awal abad ke-20.
Salah satunya adalah K’tut Tantri, seorang perempuan berkebangsaan Inggris-Amerika, yang mengisahkan pengalamannya tinggal di Bali dalam sebuah buku otobiografi.
Ia menggambarkan Kuta pada era 1930-an sebagai tempat yang masih sangat alami, belum terjamah pembangunan, dan hanya dihuni oleh para nelayan serta pura-pura kecil di pinggir pantai.
K’tut Tantri kemudian mengenalkan pesona Kuta kepada dua seniman asal Amerika yang kemudian membangun penginapan sederhana untuk wisatawan.
Inilah awal mula berdirinya akomodasi wisata di Kuta, yang kelak dikenal sebagai hotel pertama di kawasan tersebut.
Namun, invasi militer pada masa Perang Dunia II menghentikan geliat ini. Beberapa fasilitas rusak, dan aktivitas wisata pun terhenti.
Setelah perang usai, Kuta tetap sepi hingga dekade 1960-an. Baru pada awal 1970-an, kawasan ini mulai menarik perhatian wisatawan mancanegara, terutama kalangan muda yang berjiwa petualang.
Daya tarik utama Kuta terletak pada suasana santainya, biaya hidup yang terjangkau, dan tentu saja, keindahan matahari terbenamnya yang memukau.
Langit yang berubah jingga saat senja, menyatu dengan suara deburan ombak, menciptakan pengalaman visual yang sulit dilupakan.
Kedatangan wisatawan membawa dampak besar terhadap ekonomi lokal. Masyarakat sekitar mulai membangun kamar-kamar sewa, membuka warung makan, serta toko oleh-oleh.
Seiring meningkatnya kunjungan, pemerintah daerah mulai menata kawasan ini, termasuk melarang beberapa aktivitas yang dianggap tidak sesuai dengan nilai budaya lokal.
Pembangunan infrastruktur pun terus digalakkan guna menunjang kenyamanan pengunjung.
Kini, Kuta telah berkembang menjadi kawasan wisata yang modern dan kosmopolitan. Hotel-hotel berbintang berdiri di sepanjang garis pantai, berdampingan dengan penginapan murah dan rumah makan tradisional.