Jaja Bendu, Jajanan Tradisional Bali yang Sarat Makna dan Cita Rasa
Jaja Bendu, Warisan Kuliner Bali dalam Setiap Upacara Adat--
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Jaja Bendu merupakan salah satu jajanan tradisional khas Bali yang hingga kini masih lestari, terutama dalam konteks upacara adat dan keagamaan.
Kata jaja dalam bahasa Bali berarti kue atau jajanan, sementara bendu merujuk pada bentuk atau ikatan khas yang menjadi ciri utama kue ini.
Meski tampil sederhana, Jaja Bendu menyimpan makna filosofis mendalam serta cita rasa autentik yang merefleksikan kearifan lokal masyarakat Bali.
BACA JUGA:Perbedaan Smoothing dan Rebonding yang Sering Disalahpahami
Asal-usul dan Peran Budaya
Keberadaan Jaja Bendu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan religius masyarakat Bali. Jajanan tradisional ini kerap hadir sebagai bagian dari banten atau sesajen dalam berbagai upacara Hindu Bali, seperti odalan, Galungan, Kuningan, hingga upacara keluarga.
Jaja Bendu melambangkan ketulusan, kesederhanaan, serta ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Selain berfungsi sebagai sarana ritual, Jaja Bendu juga menjadi simbol kebersamaan.
Proses pembuatannya sering dilakukan secara gotong royong, terutama menjelang hari besar keagamaan, sehingga mempererat ikatan sosial dan kebersamaan antarwarga.
BACA JUGA:HAB ke-80 Kemenag RI di Gedung Surian Jadi Tonggak Penguatan Kerukunan dan Pendidikan Agama
Bahan Utama dan Karakteristik
Jaja Bendu dibuat dari bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan dan telah digunakan secara turun-temurun.
Tepung beras menjadi bahan dasar utama yang dipadukan dengan kelapa parut untuk menghadirkan aroma gurih alami. Gula merah khas Bali digunakan sebagai pemanis, sementara sedikit garam ditambahkan untuk menyeimbangkan rasa.
Perpaduan bahan tersebut menghasilkan tekstur kue yang lembut dengan sensasi sedikit kenyal. Cita rasanya manis dan gurih secara seimbang, dengan aroma khas kelapa dan gula merah yang langsung menggugah selera.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




