Situs Batu Berak: Jejak Megalitik Prasejarah di Lampung Barat
Situs Batu Berak bukan sekadar kumpulan batu besar, melainkan saksi bisu perjalanan panjang manusia prasejarah di Lampung. Foto:Instagram@ahmadipahlewi--
MEDIALAMPUNG.CO.ID — Di balik hamparan pegunungan dan hutan yang masih rimbun di Lampung Barat, tersimpan sebuah situs prasejarah penting yang dikenal sebagai Situs Batu Berak. Lokasinya berada di Pekon Purawiwitan, Kecamatan Kebun Tebu, dan telah lama menjadi perhatian para peneliti arkeologi karena menyimpan peninggalan budaya megalitik yang unik.
Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Situs Megalitik Kebun Tebu, sebuah kawasan yang menyajikan jejak kehidupan manusia pada masa ribuan tahun sebelum tulisan dan kerajaan berkembang di Nusantara.
Sebagai warisan penting bangsa, pemerintah telah menetapkannya sebagai cagar budaya nasional melalui SK KM.12/PW.007/MKP/2004 pada 3 Maret 2004.
Penetapan tersebut menunjukkan nilai historis Batu Berak yang bukan hanya penting bagi Lampung, tetapi juga bagi kajian arkeologi Indonesia secara keseluruhan.
BACA JUGA:Komisi IV Minta Tunggakan P2KM Tuntas dan Anggaran Kesehatan 2026 Lebih Akurat
Asal-usul dan Karakter Megalitik Batu Berak
Situs Batu Berak termasuk dalam kategori situs megalitik, yaitu peninggalan yang dibuat manusia prasejarah menggunakan batu-batu besar.
Di kawasan ini, peninggalan utamanya berupa dolmen, yaitu struktur batu yang biasanya berfungsi sebagai meja persembahan atau tempat ritual penghormatan arwah leluhur. Dolmen-dolmen ini dibangun dari batu monolit besar yang disusun dengan pola tertentu.
Hingga kini tercatat sekitar 30 dolmen berada di area Batu Berak. Menariknya, batu-batu tersebut tidak tersusun secara acak, melainkan berjejer dengan orientasi utara–selatan.
BACA JUGA:Instruksi Mendagri Direspons Cepat, Lampung Aktifkan Status Siaga Darurat Hidrometeorologi
Pola ini sering dihubungkan dengan keyakinan spiritual atau simbol-simbol tertentu dalam kehidupan masyarakat prasejarah. Para arkeolog menduga bahwa arah ini mungkin berkaitan dengan arah mata angin atau posisi benda langit yang menjadi pedoman aktivitas ritual.
Panjang deretan dolmen ini diperkirakan mencapai 300 meter, membentuk formasi linear yang menghiasi hamparan lahan terbuka.
Jika dilihat dari atas, susunannya tampak seperti jalur prosesi atau koridor ritual yang digunakan dalam upacara-upacara kepercayaan kuno.
Jejak seperti ini menegaskan bahwa masyarakat prasejarah di Lampung telah memiliki sistem budaya yang teratur dan simbolik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
