Fenomena Hujan Salju: Antara Dingin dan Keajaiban Alam

Fenomena Hujan Salju: Antara Dingin dan Keajaiban Alam

Keindahan salju menyimpan kisah ilmiah tentang keseimbangan alam dan cuaca--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Fenomena hujan salju selalu berhasil memikat siapa pun yang menyaksikannya. Butiran putih lembut yang turun perlahan dari langit dan menyelimuti bumi menghadirkan nuansa magis khas musim dingin.

Namun, di balik keindahan itu, tersimpan proses ilmiah yang begitu menarik tentang bagaimana salju terbentuk dan sampai ke permukaan bumi.

Hujan salju bermula jauh di lapisan awan dengan suhu di bawah titik beku, yakni 0°C. Di sana, uap air di udara tidak berubah menjadi cair seperti hujan biasa, melainkan langsung membeku menjadi kristal es melalui proses yang disebut sublimasi perubahan dari gas menjadi padat tanpa melewati fase cair.

Kristal es yang terbentuk biasanya menempel pada partikel kecil di atmosfer, seperti debu atau serbuk sari, sebelum berkembang menjadi bentuk heksagonal atau bercabang enam. Pola ini menjadi ciri khas unik dari setiap kepingan salju yang jatuh ke bumi.

BACA JUGA:Keindahan Swiss: Negeri Impian Para Pelancong Dunia

Setiap butir salju memiliki bentuk yang berbeda, dan tidak ada dua kepingan yang benar-benar sama.

Kondisi suhu, tekanan udara, dan kelembapan yang berubah-ubah di dalam awan menciptakan variasi bentuk kristal yang nyaris tak terbatas.

Hal inilah yang menjadikan setiap salju istimewa, sekaligus menjadi simbol keindahan alam yang sulit ditiru.

Ketika kristal es telah cukup besar dan berat, gaya gravitasi menariknya turun ke bumi. Jika udara di sepanjang jalurnya tetap berada di bawah 0°C, kristal itu akan tetap utuh dan turun sebagai salju murni.

BACA JUGA:Misteri dan Penjelasan Kemunculan Komet 3I/ATLAS: Tamu Antarbintang dari Kedalaman Galaksi

Namun, bila lapisan udara hangat melintas di tengah jalur, sebagian salju akan meleleh menjadi hujan campuran es atau hujan biasa.

Saat mencapai tanah yang juga bersuhu rendah, salju membentuk lapisan putih lembut yang menutupi permukaan bumi.

Di wilayah beriklim dingin, lapisan ini bisa bertahan lama hingga mencair ketika suhu udara meningkat.

Es dan air sejatinya tidak memiliki warna. Namun, saat sinar matahari menembus jutaan kristal kecil yang membentuk salju, cahaya itu terpantul ke segala arah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: