Gunung Gamalama, Pesona Alam dan Misteri di Ternate

Gunung Gamalama, Pesona Alam dan Misteri di Ternate

Pemandangan Gunung Gamala yang menjulang tinggi. / Foto --- instagram @netgeoindonesia--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Gunung Gamalama berdiri menjulang di Pulau Ternate, Maluku Utara, sekaligus menjadi ikon utama yang membentuk lanskap pulau tersebut. 

Dengan ketinggian 1.751 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung ini tidak hanya menyajikan panorama yang indah, tetapi juga menyimpan kisah sejarah, legenda masyarakat, hingga catatan panjang aktivitas vulkanik.

Secara geologi, Gamalama termasuk jenis stratovolcano, yakni gunung berapi berbentuk kerucut yang terbentuk dari tumpukan material lava dan abu vulkanik yang mengeras. Hampir seluruh wilayah Pulau Ternate terbentuk dari tubuh gunung ini. 

Berdasarkan catatan sejarah, sejak pertama kali tercatat meletus pada 1538, Gamalama sudah mengalami lebih dari 60 kali erupsi. Salah satu letusan besar di masa lalu bahkan membentuk Danau Tolire Jaha dan Danau Tolire Kecil yang kini menjadi destinasi wisata populer di Ternate. 

BACA JUGA:Gaun Bola: Busana Adat Suku Rote yang Penuh Makna

Hingga kini, kawah Gamalama masih aktif dan sesekali mengeluarkan asap belerang, menjadi pengingat bahwa keindahan alam ini juga menyimpan potensi bahaya.

Meskipun berstatus gunung berapi aktif, Gamalama tetap menjadi tujuan pendakian favorit. Jalur resmi pendakian dimulai dari titik awal di ketinggian 341 mdpl. 

Dari titik tersebut, medan menanjak menjadi tantangan utama karena jalurnya cukup curam dan menguras tenaga. Persiapan fisik yang baik sangat diperlukan agar pendakian berjalan lancar. 

Sepanjang perjalanan, pendaki akan disuguhi vegetasi tropis khas Maluku, mulai dari pohon pala, kayu manis, hingga durian. Suasana hutan sekaligus perkebunan ini menambah daya tarik jalur pendakian yang terasa alami.

BACA JUGA:Resep Bolu Tanpa Telur: Lembut, Hemat, dan Mudah Dibuat

Seperti jalur pendakian gunung lainnya, terdapat beberapa pos yang menjadi titik istirahat. Pos pertama dikenal dengan nama Mata Air Belanda. 

Di titik ini, para pendaki bisa mengisi bekal air sebelum melanjutkan perjalanan. Pos tiga kerap dipilih sebagai lokasi bermalam karena memiliki sumber air serta pepohonan yang dapat digunakan sebagai pelindung alami. 

Selanjutnya, di pos empat terdapat Mata Air Abdas yang memiliki kisah unik. Menurut kepercayaan lokal, sumber air ini hanya mengalir ketika orang yang datang memiliki hati bersih, sementara jika niat pendaki tidak baik, mata air tersebut dipercaya akan kering.

Pos lima menjadi titik penting yang dikenal dengan sebutan Pintu Suba. Sebelum memasuki jalur menuju puncak, rombongan pendaki biasanya melantunkan azan sebagai bentuk penghormatan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: