Mobil Hidrogen Dinilai Masih Terlalu Mahal untuk Pasar Indonesia

Mobil Hidrogen Dinilai Masih Terlalu Mahal untuk Pasar Indonesia

Mobil hidrogen dinilai hanya cocok di pameran, belum jadi kebutuhan masyarakat Indonesia-Ilustrasi Freepik.com-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Mantan Menteri Perhubungan sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menilai teknologi kendaraan hidrogen atau Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) masih terlalu mahal dan belum layak diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat. 

Selain harga yang selangit, minimnya infrastruktur pendukung menjadi penghalang terbesar.

“Harganya sangat tinggi. Kalau mobil hidrogen dijual sekarang, jelas tidak akan terjangkau oleh masyarakat. Biayanya bisa mencapai US$ 200.000 hingga US$ 300.000,” ungkap Jonan dalam Gaikindo International Automotive Conference (GIAC) di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (31 Juli 2025).

Jika dikonversi, nilai tersebut setara dengan Rp 3 hingga Rp 4 miliar, menjadikan mobil hidrogen berada di kelas ultra-premium yang hanya bisa dimiliki segelintir orang. 

BACA JUGA:5 Jam Tangan Lokal Murah tapi Mewah, Cinta Produk Indonesia

Jonan menegaskan, dalam kondisi sekarang, kendaraan hidrogen hanya akan menjadi pajangan di pameran otomotif tanpa memberikan dampak nyata bagi kebutuhan mobilitas masyarakat.

Ternyata salah satu produsen otomotif yang cukup agresif dalam mengembangkan FCEV ini adalah Toyota dengan model Toyota Mirai. 

Namun, hingga kini mobil berbasis hidrogen tersebut hanya dipamerkan di ajang otomotif tanpa ada rencana pemasaran resmi di Indonesia.

Jonan menilai, selain harga, ketiadaan infrastruktur hidrogen—mulai dari stasiun pengisian hingga jaringan distribusi—menjadi faktor utama yang menghambat adopsi teknologi ini.

BACA JUGA:180 Ribu Warga Bandar Lampung Sudah Aktivasi Identitas Kependudukan Digital

“Teknologi ini memang akan hadir suatu hari nanti, namun kalau saya ini masih bisa hidup 20 tahun lagi, mungkin saat itu mobil hidrogen sudah menjadi kenyataan di Indonesia ini. Tapi untuk sekarang, saya rasa belum mungkin,” ujarnya.

Bahkan, sebagai salah satu  langkah transisi menuju kendaraan yang ramah lingkungan, Jonan justru menilai bahwa kendaraan hybrid, terutama Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) ini justru menjadi opsi yang dinilai lebih realistis.

“Hybrid adalah pilihan yang masuk akal saat ini. Teknologi ini lebih efisien dan tidak memerlukan infrastruktur pengisian daya yang rumit seperti mobil listrik murni atau mobil hidrogen,” jelasnya.

Menurut Jonan, strategi bertahap melalui penggunaan kendaraan hybrid akan membantu masyarakat terbiasa dengan teknologi elektrifikasi sekaligus memberikan waktu bagi pemerintah dan pelaku industri untuk mempersiapkan infrastruktur yang memadai.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: