Apem Kesesi: Warisan Rasa dan Makna dari Pekalongan

Apem Kesesi: Warisan Rasa dan Makna dari Pekalongan

Kelezatan Apem Kesesi lahir dari resep turun-temurun dengan nilai spiritual mendalam-Foto Instagram@pekalongan_njajan1-

MEDIALAMPUNG.CO.IDApem Kesesi merupakan salah satu kuliner tradisional khas dari Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. 

Kue ini menjadi simbol kekayaan kuliner Jawa yang menggabungkan cita rasa lezat dengan nilai-nilai spiritual dan budaya yang dalam. 

Meski terlihat sederhana, setiap gigitan Apem Kesesi menyimpan cerita panjang tentang tradisi, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakatnya.

BACA JUGA:Kelo Mrico: Sajian Pedas Warisan Kuliner Khas Jawa Tengah

Sejarah dan Asal-usul

Kue apem sudah dikenal sejak masa kerajaan di tanah Jawa. Apem diyakini merupakan hasil akulturasi budaya antara Jawa dan Islam yang dibawa oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. 

Kata “apem” sendiri berasal dari bahasa Arab “afwun”, yang berarti ampunan. Karena itu, apem sering dihadirkan dalam upacara keagamaan sebagai lambang permohonan ampun kepada Tuhan.

Di daerah Kesesi, masyarakat mengembangkan resep apem dengan ciri khas tersendiri, sehingga lahirlah Apem Kesesi. Masyarakat setempat menjaga keaslian resepnya secara turun-temurun, menjadikannya salah satu identitas kuliner Pekalongan bagian selatan. 

Hingga kini, Apem Kesesi kerap dijadikan sajian wajib dalam berbagai acara adat, terutama sedekah bumi, haul, dan nyadran — tradisi ziarah dan doa bersama untuk leluhur.

BACA JUGA:Bedanya Sate Bumbon dengan Sate Lain, Ini Keunikannya

Makna Filosofis dan Nilai Sosial

Lebih dari sekadar kudapan, Apem Kesesi memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan spiritual masyarakat Jawa. Bentuknya yang bulat melambangkan kesempurnaan dan keutuhan hidup, sementara rasanya yang manis menggambarkan harapan agar kehidupan selalu dipenuhi kebahagiaan dan keberkahan.

Dalam acara adat, apem dibagikan kepada warga sebagai simbol kerukunan dan berbagi rezeki. Proses pembuatannya pun sering dilakukan secara gotong royong, di mana para ibu rumah tangga bekerja sama menyiapkan adonan dan memanggang kue, sementara kaum pria menyiapkan tungku dan bahan bakar. 

Tradisi ini tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga mempererat rasa kebersamaan antar warga desa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: