Jejak Berdarah Samurai Bayaran di Tanah Rempah
VOC merekrut ronin Jepang untuk membantai penduduk Banda dan merebut monopoli rempah-Ilustrasi: Dream Lab@Budi Setiawan-
BACA JUGA:Pemanasan Global Ancam Keamanan Pangan, Beras Berpotensi Mengandung Racun
Tahun 1621 menjadi titik kulminasi kekejaman VOC di Pulau Banda. Di bawah komando Jan Pieterszoon Coen, VOC meluncurkan invasi besar-besaran ke pulau yang dianggap membangkang dari monopoli perdagangan pala.
Serangan ini bukan sekadar operasi militer biasa. Itu adalah pembersihan sistematis. Ribuan penduduk asli Banda dibunuh, dijual sebagai budak, atau dipaksa meninggalkan tanah leluhurnya.
Para pemimpin lokal yang dikenal sebagai orang kaya diadili dan dieksekusi secara brutal karena menolak tunduk pada monopoli VOC.
Dalam catatan sejarah yang jarang diungkap, para samurai bayaran menjadi bagian dari pasukan yang melaksanakan operasi ini.
BACA JUGA:Cadangan Air Menyusut Drastis, Bukti Nyata Krisis Iklim Global
Mereka tidak hanya berperan sebagai pasukan tempur, tetapi juga turut menegakkan intimidasi terhadap penduduk sipil.
Keikutsertaan para samurai dalam pembantaian Banda merupakan paradoks tragis.
Kode etik bushido, yang menjunjung tinggi kehormatan, kesetiaan, dan perlindungan terhadap rakyat, berubah menjadi alat legitimasi kekerasan.
Samurai, yang dalam budaya Jepang merupakan pelindung, justru menjadi mesin pembunuh atas nama kekuasaan dan keuntungan dagang kolonial.
BACA JUGA:Mengungkap Makna Mendalam Mata Horus: Simbol Perlindungan Abadi dari Mesir Kuno
Mereka yang bertahan dari pembantaian menyaksikan bagaimana kampung mereka dibumihanguskan oleh orang-orang asing yang bersenjatakan pedang dan senapan, termasuk para samurai yang kini tak lagi tunduk pada kehormatan, melainkan pada kontrak kerja dan uang.
Setelah VOC berhasil mendirikan monopoli dagang di Banda dengan mengusir dan membantai sebagian besar penduduk aslinya, nasib para samurai bayaran pun mulai tenggelam dalam kabut sejarah.
Beberapa di antaranya kemungkinan besar dikirim ke medan konflik lain yang dikuasai VOC di Nusantara.
Ada pula yang mungkin kembali ke Jepang atau melanjutkan hidup sebagai tentara bayaran lintas negara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
