Idul Fitri
Idul Fitri
IDUL FITRI

Parosil Mabsus Ajak Warga Lestarikan Tradisi Malaman Buka Dibi

Parosil Mabsus Ajak Warga Lestarikan Tradisi Malaman Buka Dibi

Bupati Lambar Parosil Mabsus ikut meriahkan pawai obor malam takbiran idul fitri di Kecamtan Kebuntebu. Foto : dok--

MEDIALAMPUNG.CO.ID — Suasana malam menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Lampung Barat dipastikan bakal terasa lebih semarak. Di tengah gegap gempita persiapan menyambut 1 Syawal, satu tradisi khas warisan leluhur kembali dihidupkan dan mendapat perhatian khusus dari Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus.

Tradisi yang dimaksud adalah Malaman Buka Dibi, sebuah budaya turun-temurun yang selama ini menjadi penanda kuat identitas masyarakat Sai Batin di Bumi Beguai Jejama. Tradisi tersebut kembali digelar di Pekon Sinar Jaya, Kecamatan Kebun Tebu, Jumat malam, 20 Maret 2026, dan dihadiri langsung oleh Bupati Lampung Barat.

Kehadiran Parosil di tengah masyarakat bukan sekadar memenuhi agenda seremonial. Orang nomor satu di Lampung Barat itu ingin memastikan bahwa perayaan Idulfitri tahun ini tidak hanya meriah dari sisi suasana, tetapi juga sarat makna karena diiringi dengan upaya nyata menjaga akar budaya daerah.

Dalam keterangannya, Parosil menegaskan bahwa Malaman Buka Dibi bukan sekadar tradisi penyambut Lebaran, melainkan bagian dari jati diri masyarakat Lampung Barat yang wajib dipertahankan lintas generasi.

“Ini tradisi khas Lampung Barat yang harus dijaga. Jangan sampai hilang ditelan zaman, karena inilah salah satu warisan budaya nenek moyang kita yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung Barat,” tegas Parosil Mabsus di hadapan warga.

Diketahui, Malaman Buka Dibi hampir serentak dilaksanakan di berbagai pekon di wilayah Lampung Barat. Tradisi ini biasanya digelar mulai malam ke-27 Ramadan hingga malam 1 Syawal, menjadi momen yang selalu dinanti masyarakat karena menghadirkan suasana hangat, guyub, dan penuh nuansa kekeluargaan.

Secara turun-temurun, warga akan menyusun batok kelapa atau tempurung kelapa sisa kebutuhan dapur untuk memasak rendang, gulai, dan aneka hidangan Lebaran. Batok-batok itu kemudian ditumpuk di depan rumah, lalu dibakar hingga memunculkan nyala api yang terang dan khas. Pemandangan tersebut membuat hampir seluruh sudut kampung tampak hidup, seolah setiap rumah saling menyapa dengan cahaya api yang menyala bersamaan.

Bagi generasi lama, tradisi ini bukan tanpa makna. Dahulu, bara dari batok kelapa yang dibakar itu juga memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Arangnya dimanfaatkan untuk menyetrika pakaian baru yang akan dikenakan saat Hari Raya Idulfitri.

Parosil menyebut tradisi ini sudah dilakukan sejak masa nenek moyang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kehidupan masyarakat Lampung Barat.

“Tradisi ini dilakukan dengan cara menyusun batok kelapa meninggi di depan rumah warga, lalu dibakar hingga menghasilkan api yang menerangi setiap rumah,” jelas Parosil.

Menurutnya, menghidupkan kembali Malaman Buka Dibi bukan sekadar menghadirkan romantisme masa lalu, tetapi juga menjadi langkah konkret untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal, terutama di kalangan generasi muda.

Ia menilai modernisasi dan perubahan zaman memang tidak bisa dihindari. Namun, di tengah arus perkembangan tersebut, budaya daerah tidak boleh dibiarkan memudar. Justru, budaya lokal harus menjadi identitas yang terus dikenalkan, diwariskan, dan dibanggakan.

“Harapan saya, tradisi ini tetap dijaga. Karena Lampung Barat ini asal muasal suku Lampung. Jadi, budaya itu banyak dan sangat kuat di Lampung Barat,” ujarnya.

Parosil juga secara khusus mengajak kalangan milenial dan generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton dalam pelestarian budaya. Ia berharap anak-anak muda ikut ambil bagian langsung, memahami makna tradisi, dan meneruskannya di masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait