Ketika Like, Share, dan View Menjadi Mata Uang Baru

Ketika Like, Share, dan View Menjadi Mata Uang Baru

Di balik viralitas, ada risiko dan tekanan dalam ekonomi berbasis atensi.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Di era digital hari ini, nilai tidak lagi hanya diukur dari uang yang tersimpan di rekening.

Like, share, dan view perlahan menjelma menjadi mata uang baru yang menentukan pengaruh, peluang, bahkan penghidupan seseorang.

Dunia maya telah membentuk ekosistem ekonomi baru, di mana perhatian publik menjadi komoditas paling berharga.

Fenomena ini terasa nyata di media sosial. Unggahan yang ramai interaksi dapat membuka pintu kerja sama, undangan kolaborasi, hingga sumber pendapatan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.

BACA JUGA:Dari Jepretan Sunyi ke Proyek Ramai, Jalan Panjang Fotografer Lepas

Sebaliknya, konten berkualitas yang sepi respons sering kali tenggelam, seolah tak pernah ada. Di sinilah algoritma berperan sebagai “penjaga gerbang” yang menentukan siapa terlihat dan siapa terabaikan.

Awalnya, media sosial hadir sebagai ruang berbagi cerita, gagasan, dan ekspresi personal. Namun, seiring waktu, interaksi digital berubah menjadi indikator nilai.

Like menjadi simbol penerimaan, share menjadi tanda pengaruh, dan view menjadi ukuran daya jangkau.

Bagi kreator konten, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia menjadi modal tawar di hadapan brand, agensi, hingga platform digital.

BACA JUGA:Dari Story Iseng ke Strategi Brand, Perjalanan Freelance Creator

Satu video viral bisa mengubah posisi sosial seseorang, dari anonim menjadi figur publik dalam hitungan hari. Inilah wajah baru ekonomi kreatif yang bergerak cepat, dinamis, dan penuh kompetisi.

Di balik layar, algoritma bekerja tanpa henti mengatur arus perhatian. Konten yang memicu emosi, kontroversi, atau sensasi sering kali lebih mudah mendapatkan eksposur dibanding konten yang informatif namun tenang.

Akibatnya, banyak kreator terdorong untuk menyesuaikan diri dengan selera algoritma, bukan lagi dengan nilai atau pesan yang ingin disampaikan.

Pertarungan ini menciptakan dilema. Di satu sisi, like dan view menjadi kebutuhan agar tetap relevan. Di sisi lain, tekanan untuk selalu tampil menarik dan viral berisiko menggerus kejujuran, kedalaman, dan kesehatan mental para kreator.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: