Sisi Gelap Dunia Freelance: Dari Tidak Stabil Hingga Overwork
Bekerja sebagai freelancer sering disebut fleksibel, namun realitanya penuh tekanan--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Dunia freelance sering dipersepsikan sebagai pekerjaan yang bebas, fleksibel, dan menjanjikan penghasilan tinggi.
Banyak orang menganggap bekerja secara mandiri adalah pilihan ideal untuk mengatur waktu sendiri tanpa tekanan kantor.
Namun di balik citra tersebut, terdapat sisi gelap yang jarang dibicarakan: ketidakstabilan pendapatan, persaingan ketat, hingga tuntutan kerja berlebih yang menyebabkan burnout.
Berbeda dengan pekerja kantoran yang menerima gaji tetap setiap bulan, freelancer bergantung sepenuhnya pada jumlah proyek yang berhasil mereka dapatkan.
BACA JUGA:Cara Menjaga Work-Life Balance sebagai Freelancer di Era Kerja Fleksibel
Ada masa ketika pekerjaan datang bertubi-tubi, namun ada pula periode kosong tanpa pemasukan sama sekali.
Ketidakpastian ini membuat banyak freelancer harus menyiapkan dana cadangan dan terbiasa hidup dalam kondisi fluktuatif.
Di beberapa kasus, pendapatan bahkan tidak sebanding dengan jam kerja yang dikeluarkan.
Kemudahan akses platform freelance membuat siapa saja bisa bersaing di pasar global. Persaingan bukan hanya dengan pekerja lokal, tetapi juga freelancer dari berbagai negara yang menawarkan harga jauh lebih murah.
BACA JUGA:Freelancer Pemula: Haruskah Mulai dari Proyek Gratis? Ini Penjelasan Lengkapnya
Akibatnya, banyak freelancer terjebak menurunkan harga demi mendapatkan klien, yang pada akhirnya merugikan diri sendiri dan merusak standar pasar.
Freelancer bekerja tanpa perlindungan layaknya karyawan tetap. Tidak ada BPJS Ketenagakerjaan, jaminan kesehatan perusahaan, cuti sakit, ataupun tunjangan hari raya. Semua risiko harus ditanggung sendiri.
Bagi yang tidak memiliki perencanaan matang, ketidakhadiran jaminan sosial dapat sangat merugikan, terutama saat sakit atau tidak mampu bekerja untuk jangka waktu lama.
Fleksibilitas waktu ternyata menyimpan paradoks tersendiri. Banyak freelancer bekerja lebih lama dibanding pekerja kantoran karena merasa harus terus “online” untuk mengejar proyek.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
