Krisis Dealer BYD di China: Ekspansi Agresif Picu Runtuhnya Puluhan Mitra Utama

Krisis Dealer BYD di China: Ekspansi Agresif Picu Runtuhnya Puluhan Mitra Utama

Showroom BYD tutup massal di Shandong-Ilustrasi AI-

MEDIALAMPUNG.CO.ID  – Saat ini dikabarkan sudah puluhan unit dealer utama BYD yang ada di China mulai mengalami keruntuhan setelah krisis finansial melanda mitra strategis mereka, Qiancheng Group. 

Kejadian ini memicu kekhawatiran mengenai stabilitas jaringan distribusi produsen mobil listrik terbesar di dunia tersebut.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari CarNewsChina, Minggu (1 Juni 2025), Departemen Merek dan Hubungan Masyarakat BYD membantah adanya gangguan sistemik pada jaringan dealer mereka. 

Pihak perusahaan menegaskan bahwa kebijakan terhadap jaringan penjualan telah dijalankan secara konsisten dan stabil dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:Emblem Jadi Penghalang, Penjualan Mobil BAIC X55 II di Indonesia Terpuruk

Menurut BYD, keruntuhan Qiancheng Group tidak disebabkan oleh keputusan perusahaan pusat, melainkan akibat kesalahan internal dalam manajemen bisnis grup tersebut.

“Krisis ini bermula dari strategi ekspansi yang terlalu agresif dan bergantung pada pembiayaan utang tanpa disertai perencanaan jangka panjang yang memadai,” ujar perwakilan BYD.

Namun, versi berbeda muncul dari dokumen internal Qiancheng Group tertanggal 17 April 2025. 

Dalam memo tersebut, manajemen menuding perubahan kebijakan jaringan dealer oleh BYD selama dua tahun terakhir telah membebani arus kas perusahaan secara signifikan.

BACA JUGA:Perseteruan BYD vs Great Wall Motor Memanas: Potret Ketegangan Industri Otomotif China

"Penyesuaian distribusi dan target penjualan dari pihak prinsipal telah menambah tekanan terhadap kondisi keuangan kami yang sudah sulit," tulis pernyataan internal tersebut. 

Selain itu, Qiancheng juga menyoroti situasi eksternal, termasuk penurunan iklim bisnis otomotif di Provinsi Shandong dan pengetatan akses pendanaan dari sektor perbankan, sebagai faktor-faktor yang memperparah krisis.

Krisis ini tak hanya berdampak pada internal perusahaan, tetapi juga menimbulkan keresahan di kalangan konsumen. 

Banyak pelanggan mengeluhkan ketidakjelasan layanan purnajual dan kehilangan kepercayaan karena kendaraan mereka dibeli melalui dealer resmi yang kini sudah tidak beroperasi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: