Peringatan Diabaikan, Pantai Pesisir Barat Terus Makan Korban

Selasa 24-03-2026,15:00 WIB
Reporter : Yayan Prantoso
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Keindahan pantai di Kabupaten Pesisir Barat kembali menjadi sorotan oleh rentetan peristiwa tenggelam yang terus berulang. Di balik panorama laut yang memikat, tersimpan ancaman nyata yang kerap diabaikan para pengunjung.

Terbaru, insiden tenggelam kembali terjadi di kawasan Pantai Mandiri Sejati, Kecamatan Krui Selatan, pada Senin, 23 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Idul Fitri 1447 Hijriah. Bahkan, dalam satu hari, tiga orang dilaporkan menjadi korban. Hal ini menegaskan bahwa ancaman di perairan pantai di Pesisir Barat bukan sekadar peringatan.

Plt. Kepala BPBD Pesisir Barat, Roby Arfan, mengungkapkan bahwa kejadian serupa bukanlah hal baru. Hampir setiap musim liburan, terutama saat momen Lebaran dan tahun baru, kasus pengunjung tenggelam terus berulang. Berdasarkan data yang ada, sejak 2023 hingga Maret 2026 tercatat sebanyak 39 kejadian tenggelam di wilayah pesisir. Dari jumlah tersebut, terdapat 36 korban, dengan 13 orang berhasil diselamatkan.

Data itu, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa kawasan pantai di Pesisir Barat memiliki tingkat risiko tinggi, terutama jika pengunjung mengabaikan peringatan dan imbauan dari masyarakat maupun petugas di lapangan.

“Kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Kami tidak pernah berhenti mengingatkan, tapi masih banyak pengunjung yang mengabaikan imbauan,” katanya.

Menurut Roby, berbagai langkah pencegahan sebenarnya telah dilakukan secara maksimal oleh petugas gabungan. Mulai dari patroli rutin di sepanjang pesisir, pemasangan rambu peringatan, hingga imbauan langsung kepada wisatawan agar tidak berenang di area berbahaya. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang mengkhawatirkan. Banyak pengunjung justru tetap nekat turun ke laut, meski sudah diperingatkan.

“Ketika petugas ada di lokasi, pengunjung patuh dan tidak berenang. Namun, begitu petugas bergeser, mereka kembali turun ke laut. Ini yang menjadi kendala utama,” jelasnya.

Dikatakannya, karakter ombak di wilayah pesisir barat Lampung dikenal cukup ekstrem, dengan arus kuat dan gelombang tinggi yang bisa berubah sewaktu-waktu. Kondisi tersebut sangat berisiko, terutama bagi wisatawan yang tidak memahami medan, apalagi perairan tersebut merupakan bagian dari Samudera Hindia.

“Arus balik atau rip current di pantai ini sangat berbahaya. Sekali terseret, korban bisa langsung terbawa ke tengah laut,” jelasnya.

Rentetan kejadian yang terus berulang seharusnya menjadi peringatan serius bagi para pengunjung. Tidak sedikit korban yang akhirnya kehilangan nyawa akibat mengabaikan larangan yang telah disampaikan berulang kali. Ia menekankan, upaya petugas tidak akan berarti tanpa kesadaran dari pengunjung itu sendiri.

“Petugas bukan tidak bekerja. Kami sudah patroli, sudah mengingatkan. Namun, jika pengunjung tetap nekat, tentu risikonya sangat besar,” tegasnya.

Dikatakannya, sebagai bentuk langkah preventif, BPBD Kabupaten Pesisir Barat juga telah mengeluarkan imbauan resmi melalui press rilis Nomor: 360/PR/BPBD-PSB/III/2026 tertanggal 24 Maret 2026. Dalam imbauan tersebut, masyarakat ataupun pengunjung wisata diminta meningkatkan kewaspadaan selama libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

“Pengunjung diminta memperhatikan informasi cuaca, tidak berenang di lokasi tanpa pengawasan, menghindari aktivitas saat gelombang tinggi, serta selalu mematuhi rambu keselamatan dan arahan petugas,” ujarnya.

Selain itu, pengawasan terhadap anak-anak dan kewaspadaan terhadap area berbahaya juga harus menjadi perhatian utama. BPBD bersama tim gabungan terus melakukan pemantauan dan siaga di sejumlah titik wisata pantai. Namun, ia kembali mengingatkan bahwa keselamatan sejatinya berawal dari kesadaran masing-masing individu.

“Jangan sampai niat berlibur justru berujung musibah. Keindahan pantai harus dinikmati dengan bijak dan penuh kewaspadaan,” pungkasnya. (*)

Kategori :