MEDIALAMPUNG.CO.ID - Saqqara merupakan salah satu kawasan pemakaman paling penting dalam sejarah Mesir Kuno.
Terletak sekitar 30 kilometer di selatan Kairo, Saqqara menjadi nekropolis utama kota Memphis, ibu kota Mesir pada masa Kerajaan Lama.
Kawasan ini menyimpan ribuan artefak yang bukan hanya bernilai sejarah dan budaya, tetapi juga menarik perhatian para ilmuwan karena menunjukkan tingkat pengetahuan teknis yang sangat maju pada masanya.
Artefak Saqqara memberi gambaran bahwa masyarakat Mesir Kuno memiliki pemahaman mendalam tentang arsitektur, teknik material, kedokteran, hingga kosmologi.
BACA JUGA:Ban Mobil Mahasiswi Dikempeskan, Oknum DPRD Lampung Diproses BK
Kompleks Piramida dan Presisi Teknik Bangunan
Artefak paling terkenal di Saqqara adalah Piramida Bertingkat Djoser, yang dibangun sekitar abad ke-27 SM oleh arsitek legendaris Imhotep. Secara ilmiah, piramida ini menunjukkan lompatan besar dalam teknik konstruksi.
Sebelumnya, makam raja hanya berbentuk mastaba (bangunan datar). Transformasi menjadi bangunan bertingkat menandai awal arsitektur monumental berbahan batu.
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa batu kapur yang digunakan dipotong dengan tingkat presisi tinggi. Analisis bekas pahatan pada batu memperlihatkan penggunaan alat tembaga yang dikombinasikan dengan pasir kuarsa sebagai bahan abrasif. Teknik ini secara ilmiah terbukti efektif untuk memotong batu keras, menunjukkan pemahaman mekanika sederhana dan material science yang baik.
BACA JUGA:Lampung Terima 710.711 Ton Pupuk Bersubsidi 2026, Ini Rinciannya
Artefak Batu dan Teknologi Produksi
Banyak artefak Saqqara berupa wadah batu, patung, dan relief yang terbuat dari granit, diorit, dan basal—batu yang sangat keras. Dari sudut pandang ilmiah, pengerjaan batu-batu ini menuntut teknik khusus. Studi mikroskopis pada permukaan artefak menunjukkan pola simetris dan bekas putaran, yang mengindikasikan penggunaan alat berbasis gerak rotasi.
Meski belum ditemukan mesin dalam arti modern, para ilmuwan berpendapat bahwa masyarakat Mesir Kuno menggunakan alat manual dengan sistem tuas, tali, dan pemberat.
Prinsip fisika sederhana seperti gaya gesek, tekanan, dan momentum sudah mereka terapkan secara intuitif, jauh sebelum konsep-konsep tersebut dirumuskan secara formal.
BACA JUGA:Pengedar Sabu di Kotabumi Utara Dibekuk Satreskoba Polres Lampung Utara