Dari Takut PHK ke Berani Freelance, Cara Anak Muda Menyelamatkan Diri

Rabu 04-02-2026,07:09 WIB
Reporter : Krisna Jeri
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Ketakutan akan pemutusan hubungan kerja (PHK) kini menjadi bayang-bayang nyata bagi banyak anak muda Indonesia.

Ketidakpastian ekonomi global, efisiensi perusahaan, hingga disrupsi teknologi membuat status karyawan tetap tak lagi terasa aman.

Di tengah situasi itu, sebagian generasi muda memilih jalan yang dulu dianggap berisiko: menjadi pekerja lepas atau freelance.

Bagi banyak anak muda, keputusan beralih ke dunia freelance bukan semata soal gaya hidup fleksibel, melainkan strategi bertahan hidup.

BACA JUGA:Hidup Tanpa Gaji Tetap dan Pergeseran Cara Memandang Kerja

Ketika gaji bulanan tak lagi menjamin masa depan, memiliki kendali atas keahlian dan sumber penghasilan sendiri menjadi pilihan rasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, kabar PHK datang silih berganti dari berbagai sektor. Industri media, startup digital, manufaktur, hingga jasa kreatif mengalami pengetatan.

Anak muda yang sebelumnya merasa aman sebagai karyawan mulai menyadari satu hal penting: stabilitas kerja bukan lagi sesuatu yang bisa diandalkan sepenuhnya.

Kondisi ini memicu perubahan cara pandang terhadap pekerjaan. Banyak yang mulai bertanya, apakah bertahan di satu perusahaan masih menjadi pilihan terbaik, atau justru memperbesar risiko ketika badai ekonomi datang tanpa peringatan.

BACA JUGA:Dari Kantor ke Karya, Masa Depan Kerja Versi Freelance

Freelance kemudian muncul sebagai alternatif yang semakin relevan. Dunia kerja berbasis proyek memberi ruang bagi anak muda untuk memonetisasi keahlian secara langsung, tanpa bergantung pada satu institusi.

Penulis, desainer grafis, videografer, editor, social media specialist, hingga programmer mulai melihat freelance bukan sebagai pekerjaan sampingan, melainkan sumber hidup utama.

Dengan satu skill, mereka bisa membuka banyak pintu penghasilan, baik dari klien lokal maupun global.

Pilihan ini juga memberi fleksibilitas waktu dan ruang. Anak muda tidak lagi terikat jam kerja kaku, melainkan dinilai dari hasil. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, model kerja seperti ini dianggap lebih adaptif.

BACA JUGA:Dari Hobi ke Cuan, Cara Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Kategori :