MEDIALAMPUNG.CO.ID - Perkembangan kecerdasan buatan mengubah wajah dunia kerja dengan kecepatan yang nyaris tak memberi jeda.
Teks bisa ditulis dalam hitungan detik, desain bisa dihasilkan instan, video bisa dirangkai otomatis. Di permukaan, AI tampak seperti solusi murah dan efisien bagi banyak kebutuhan industri kreatif.
Namun seiring waktu, muncul satu kesadaran penting: cepat bukan berarti tepat, dan murah tidak selalu bernilai.
Di tengah banjir konten instan, sentuhan manusia justru menjadi pembeda yang semakin dicari.
BACA JUGA:Ketika Video Pendek Menjadi Ladang Rezeki Baru
AI mampu memproses data, meniru gaya, bahkan menggabungkan ribuan referensi dalam waktu singkat.
Tapi ada satu hal yang belum bisa sepenuhnya digantikan, yakni kemampuan manusia untuk memahami konteks, emosi, dan makna di balik sebuah karya.
Seorang ilustrator tidak sekadar menggambar, ia menerjemahkan cerita. Videografer tidak hanya menyusun klip, tapi membangun rasa.
Penulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyampaikan pengalaman dan sudut pandang. Di sinilah nilai manusia bekerja, di area yang tak bisa dihitung oleh algoritma.
BACA JUGA:Ilustrator Freelance dan Realita Menghargai Karya Kreatif
Ironisnya, semakin mudah sebuah karya dibuat, semakin rendah pula apresiasi terhadap karya yang terasa generik.
Konten hasil AI yang berlimpah justru memicu kejenuhan baru. Banyak brand dan klien mulai menyadari bahwa audiens bisa membedakan mana karya yang sekadar rapi dan mana yang terasa hidup.
Akibatnya, karya dengan sentuhan personal, riset mendalam, dan empati justru dihargai lebih tinggi.
Bukan karena teknologinya tertinggal, tetapi karena manusianya hadir sepenuhnya di dalam proses kreatif.
BACA JUGA:Desainer Lepas di Tengah Selera Klien yang Terus Berubah