MEDIALAMPUNG.CO.ID - Ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan sektor industri membuat dunia ketenagakerjaan Indonesia berada dalam tekanan.
Gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, ritel, hingga startup teknologi.
Di sisi lain, jumlah lowongan kerja formal tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja baru, menciptakan persaingan yang semakin ketat.
Namun di tengah kondisi yang menantang tersebut, dunia digital justru menunjukkan arah yang berbeda. Ruang kerja berbasis teknologi perlahan membuka peluang baru yang sebelumnya tidak banyak dilirik oleh masyarakat luas.
BACA JUGA:Saat Pekerjaan Tak Lagi Menjanjikan, Skill dan Internet Membuka Harapan Baru
Meningkatnya angka PHK bukan semata persoalan perusahaan merugi, melainkan juga dampak dari perubahan pola bisnis.
Efisiensi, otomatisasi, dan digitalisasi membuat banyak posisi konvensional tergeser. Lapangan kerja yang dulu dianggap stabil kini tak lagi memberikan rasa aman jangka panjang.
Situasi ini memaksa banyak pekerja untuk melakukan evaluasi ulang terhadap pilihan karier mereka.
Ketergantungan pada satu sumber penghasilan mulai dianggap berisiko, terlebih ketika kondisi ekonomi mudah bergejolak.
BACA JUGA:Dari Laptop Panas ke Video Viral, Cerita di Balik Layar Freelancer Video
Di tengah menyempitnya lapangan kerja formal, sektor digital justru berkembang pesat. Internet membuka akses kerja lintas wilayah bahkan lintas negara.
Profesi seperti freelancer, kreator konten, pengembang web, analis data, hingga pengelola media sosial semakin dibutuhkan oleh perusahaan dan UMKM.
Keunggulan utama dunia digital terletak pada fleksibilitas. Seseorang tidak harus terikat jam kerja kaku atau lokasi tertentu.
Dengan keterampilan yang tepat, peluang penghasilan terbuka lebar, bahkan bisa melampaui gaji pekerjaan konvensional.
BACA JUGA:Desain, Freelance, dan Lepas dari Identitas Seragam Kantor