Masuknya pengaruh kolonial Eropa turut mengubah wajah tari perut. Pada masa kolonial Inggris dan Prancis, tarian ini mulai dipandang sebagai simbol “keeksotisan Timur” oleh masyarakat Barat.
Penampilan tari perut di berbagai pameran dunia, termasuk Chicago World’s Fair pada akhir abad ke-19, menjadi titik awal popularitasnya di luar kawasan asal. Sejak saat itu, tari perut mulai mengalami penyesuaian dengan selera estetika Barat.
Pada abad ke-20, muncul bentuk tari perut modern yang menggabungkan unsur balet, tari rakyat, hingga gaya panggung Barat. Kostum pun mengalami perubahan signifikan.
Jika sebelumnya penari mengenakan busana tradisional yang relatif tertutup, maka dalam versi modern mulai digunakan kostum dua potong dengan hiasan manik-manik dan payet yang mencolok. Perubahan ini turut memengaruhi persepsi publik terhadap tari perut sebagai hiburan visual.
BACA JUGA:Eksotika Snorkeling di Gili Ketapang, Permata Pantai Utara Probolinggo Jawa Timur
Meski kerap dilekatkan dengan citra sensual, tari perut sejatinya bukanlah tarian yang bersifat vulgar. Dalam tradisi aslinya, pertunjukan ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Bahkan, dalam sejumlah komunitas, tari perut ditampilkan pada acara keluarga seperti pesta ulang tahun, pernikahan, atau perayaan adat.
Dari sisi fisik, tari perut tergolong sebagai tarian berdampak rendah (low impact). Gerakannya menekankan kontrol otot dan kelenturan, bukan kekuatan atau lompatan ekstrem.
Oleh karena itu, banyak penari yang mampu terus menari hingga usia lanjut. Standar tubuh ideal pun tidak menjadi syarat utama, berbeda dengan beberapa jenis tari lain yang menuntut postur tertentu.
BACA JUGA:Kue Cucur Gula Merah, Jajanan Tradisional Legit yang Tak Lekang oleh Waktu
Namun dalam perkembangannya, terutama di industri hiburan modern, tari perut mengalami pergeseran fungsi. Di sejumlah tempat, tarian ini lebih sering ditampilkan sebagai hiburan malam dengan penekanan pada aspek visual dan sensualitas.
Busana yang semakin terbuka serta koreografi yang dirancang untuk menarik perhatian penonton menjadi ciri yang kerap dijumpai.
Perubahan tersebut memunculkan perdebatan mengenai makna dan posisi tari perut dalam konteks budaya.
Di satu sisi, modernisasi dianggap sebagai bagian dari dinamika seni pertunjukan. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa nilai historis dan filosofis tari perut semakin terpinggirkan oleh tuntutan pasar hiburan.
BACA JUGA:Antisipasi Cuaca Ekstrem, Pemkot Bandar Lampung Bersihkan Drainase Hingga Perbatasan Lamsel
Meski demikian, banyak komunitas seni dan peneliti budaya yang terus berupaya melestarikan tari perut sebagai warisan budaya.