Internet membuka pasar, tapi juga membuka persaingan. Freelance desainer grafis tidak hanya bersaing dengan teman satu kota, tapi dengan desainer dari seluruh dunia. Harga bisa jatuh, standar bisa naik, klien bisa bandingkan.
Ini membuat posisi freelancer tidak pernah benar-benar aman. Harus terus belajar, terus upgrade, terus berkembang. Yang berhenti, tertinggal. Yang lengah, tersingkir.
Bagi freelance desainer grafis, karya adalah identitas. Orang mengenal dari visual, bukan dari CV. Portofolio lebih berbicara daripada gelar. Setiap desain yang dirilis ke publik adalah representasi diri.
Itulah mengapa banyak desainer sangat personal dengan karyanya. Karena di situlah nama mereka dipertaruhkan. Sekali buruk, bisa diingat lama. Sekali kuat, bisa jadi pintu rezeki.
BACA JUGA:Dari Hobi Jadi Profesi, Perjalanan Freelance Writer di Era Digital
Freelance desain grafis bukan sekadar profesi kreatif, tapi profesi mental. Mental menghadapi klien, mental menghadapi penolakan, mental menghadapi sepi proyek, mental menghadapi kritik. Tidak semua orang sanggup.
Di luar, orang melihat visual yang rapi. Di dalam, ada desainer yang lelah. Di feed, orang melihat warna yang indah.
Di balik layar, ada proses yang panjang. Itulah dunia freelance desain grafis, indah di permukaan, keras di dalam Dan mereka yang memilih jalan ini, bukan sekadar mencari kerja. Mereka sedang memperjuangkan hidup lewat estetika.