Usai menikmati panorama pantai, jangan lewatkan kesempatan mencicipi kuliner khas Lombok. Hidangan seperti ayam taliwang, plecing kangkung, dan sate bulayak mudah ditemukan di warung-warung kecil di sekitar kawasan wisata.
Tak lengkap rasanya bila tidak menutup hari dengan segarnya es kelapa muda yang disajikan langsung dari buahnya.
Makanan khas ini bukan hanya menggugah selera, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman budaya yang memperkaya kunjungan ke Pantai Mawun.
BACA JUGA:Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Surga Liar di Pulau Halmahera
Sebagai destinasi yang masih alami, menjaga kebersihan Pantai Mawun menjadi tanggung jawab bersama.
Pengunjung diimbau untuk membawa kembali sampah mereka dan tidak merusak vegetasi di sekitar pantai. Kesadaran ini penting agar keindahan Mawun tetap lestari bagi generasi mendatang.
Selain itu, karena belum banyak fasilitas modern seperti restoran besar atau toko oleh-oleh, sebaiknya wisatawan membawa perbekalan sendiri dan datang di waktu pagi hingga sore.
Pantai Mawun adalah tempat di mana waktu seolah melambat. Keheningan, keindahan, dan kesederhanaan berpadu menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di tempat lain.
BACA JUGA:Curug Cilember, Permata Alam Sejuk di Lereng Puncak Bogor
Lombok mungkin memiliki banyak pantai yang indah, tetapi hanya sedikit yang mampu menawarkan ketenangan alami seperti Mawun.
Ketika matahari tenggelam di balik bukit, meninggalkan semburat jingga di langit barat, pengunjung akan mengerti mengapa pantai ini begitu dicintai mereka yang pernah datang.
Mawun bukan sekadar tempat wisata—ia adalah ruang untuk kembali merasakan makna keindahan yang sesungguhnya.(*)