Waisai, Dari Hutan Belantara Menjadi Pusat Pariwisata Dunia

Senin 01-09-2025,17:33 WIB
Reporter : Yayan Prantoso
Editor : Budi Setiawan

Popularitas kawasan ini kemudian meroket. Wisatawan dari berbagai negara datang untuk menikmati panorama bawah laut yang tiada duanya. Bahkan, untuk menginap di salah satu resor, pengunjung harus memesan tempat setidaknya enam bulan sebelumnya. 

Data Dinas Pariwisata mencatat, pada 2009 Raja Ampat menerima sekitar 3.000 wisatawan dengan pendapatan Rp 6 miliar. Setahun kemudian, jumlah kunjungan melonjak menjadi 6.000 orang dengan perolehan Rp 9 miliar hanya hingga November.

Perubahan pun terlihat nyata di Waisai. Dalam kurun waktu empat tahun sejak berdiri, kota kecil itu bertransformasi menjadi pusat aktivitas baru. Kantor bupati, gedung DPRD, rumah sakit, sekolah, kantor KPU, hingga hotel dan fasilitas listrik daerah mulai berdiri. 

Jalan-jalan dibangun dengan konstruksi beton yang membentang seperti urat nadi kota, menghubungkan satu sudut ke sudut lain.

BACA JUGA:Tahu vs Tempe: Siapa Juara Protein Nabati?

Namun, pembangunan itu tidak berlangsung tanpa hambatan. Geografi berbukit dan hutan perawan menjadi tantangan besar. Alat berat harus dikirim dari Sorong melalui jalur laut yang rawan cuaca ekstrem. 

Ombak setinggi tiga meter bisa muncul tiba-tiba di tengah perjalanan. Setiap kemajuan selalu menuntut pengorbanan, termasuk membelah bukit dan menebang pohon demi membuka akses.

Kondisi ini memunculkan sorotan dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat, lembaga swadaya masyarakat, hingga organisasi internasional yang peduli lingkungan. Raja Ampat merupakan kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis tinggi. 

Karena itu, pembangunan harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Masyarakat dan pemerintah setempat menjadikan kearifan lokal sebagai landasan, memastikan bahwa kemajuan tidak mengorbankan kelestarian alam.

BACA JUGA:Pelayanan di MPP Bandar Lampung Tetap Berjalan Meski Ada Aksi di DPRD

Prinsip tersebut menjadi kunci agar pembangunan tidak menimbulkan pertentangan, melainkan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. 

Tujuan utamanya jelas, yakni menjadikan Waisai bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, melainkan juga sebagai kota yang memberikan manfaat bagi rakyat, sambil tetap menjaga keutuhan hutan dan ekosistem laut.

Melihat perkembangan pesat, pemerintah Raja Ampat mulai merencanakan pembangunan bandara di Waisai. Bandara ini nantinya dirancang mampu menampung pesawat kecil sehingga wisatawan dari Bali dan daerah lain dapat langsung tiba tanpa transit. 

Kajian awal menunjukkan rencana ini layak untuk direalisasikan, menambah daya tarik Waisai sebagai pintu gerbang pariwisata dunia.

BACA JUGA:Efek Samping Ibuprofen yang Perlu Diwaspadai

Kini, Adam hanya bisa mengingat kembali kesan pertamanya belasan tahun silam. Waisai yang dulu hanyalah hutan dengan sepuluh rumah, telah menjelma menjadi kota yang ramai dan dikenal luas. 

Kategori :