Sigajang Laleng Lipa, Tradisi Unik dan Ekstrem dari Sulawesi Selatan

Sabtu 16-08-2025,19:31 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Pertarungan berakhir ketika salah satu pihak tidak mampu melanjutkan perlawanan, baik karena terluka parah maupun kehilangan nyawa. Inilah sebabnya tradisi ini dianggap sebagai salah satu ritual paling berbahaya di Indonesia.

Dari sisi keamanan, Sigajang Laleng Lipa jelas sangat berisiko. Luka serius hingga kematian bukanlah hal yang jarang terjadi. Karena itu, tradisi ini sering menuai pro dan kontra. 

Sebagian orang menganggapnya sebagai tradisi kejam yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. 

Namun, di sisi lain, ada pula yang melihat Sigajang Laleng Lipa sebagai simbol keberanian dan keteguhan hati orang Bugis dalam mempertahankan harga diri.

BACA JUGA:Pesona Desa Adat Wae Rebo, Permata Budaya di Pegunungan Flores

Meskipun ekstrem, tradisi Sigajang Laleng Lipa menyimpan makna sosial dan budaya yang mendalam. Pertama, tradisi ini menegaskan pentingnya konsep siri’ atau harga diri. 

Bagi orang Bugis, hidup tanpa kehormatan sama artinya dengan tidak hidup sama sekali. Kedua, tradisi ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah dalam masyarakat Bugis selalu mengutamakan musyawarah, sedangkan Sigajang Laleng Lipa hanyalah pilihan terakhir.

Selain itu, tradisi ini juga menanamkan nilai keberanian. Seseorang yang bersedia masuk ke dalam sarung untuk menghadapi lawannya dianggap memiliki jiwa ksatria. 

Pertarungan dilakukan secara terbuka, bukan dengan cara licik atau sembunyi-sembunyi.

BACA JUGA:Pakaian Adat Koto Gadang yang Anggun dan Sederhana

Seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya sistem hukum negara, Sigajang Laleng Lipa mulai jarang dilakukan sebagai cara penyelesaian konflik. 

Pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat lebih mendorong penggunaan jalur hukum atau mediasi damai agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Namun, tradisi ini tidak benar-benar hilang. Kini Sigajang Laleng Lipa lebih banyak ditampilkan dalam bentuk pertunjukan budaya pada acara tertentu, seperti festival adat atau perayaan daerah. 

Dalam versi pertunjukan, badik yang digunakan diganti dengan replika atau dibuat tumpul, sehingga tidak menimbulkan korban. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa melihat tradisi leluhur ini tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.

BACA JUGA:Titi, Seni Tato Tradisional Suku Mentawai

Walaupun menegangkan, Sigajang Laleng Lipa adalah bagian dari identitas budaya Bugis yang patut dihargai. Ia menjadi pengingat betapa pentingnya nilai harga diri dalam kehidupan sosial orang Bugis. 

Kategori :