Menteri PKP Maruarar Sirait menekankan pentingnya sektor perumahan sebagai pendorong pertumbuhan berbagai subsektor ekonomi.
Menurutnya, program FLPP tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap industri kontraktor, developer, bahan bangunan, hingga sektor tenaga kerja.
“Kita tidak sedang sekadar membangun rumah, tapi sedang membangun sejarah. Ini adalah fondasi bagi Indonesia yang lebih adil dan berkeadilan,” ujarnya penuh semangat.
FLPP adalah skema pembiayaan perumahan berbunga rendah yang disalurkan melalui lembaga keuangan seperti BRI.
BACA JUGA:Bukan Indonesia, Australia Jadi Pasar Terbesar Toyota Land Cruiser 300
Program ini memberikan kesempatan kepada MBR untuk memiliki rumah pertama dengan suku bunga tetap maksimal 5% dan tenor kredit hingga 20 tahun.
Selain itu, pembiayaan disesuaikan dengan zona wilayah untuk memastikan kesetaraan akses di seluruh Indonesia.
Hingga Juni 2025, BRI telah menyalurkan KPR subsidi kepada lebih dari 101 ribu penerima manfaat dengan total pembiayaan mencapai Rp13,79 triliun.
Ini menjadikan BRI sebagai salah satu bank penyalur KPRS terbesar di Tanah Air.
BACA JUGA:BRI Kembali Tawarkan KUR 2025 untuk Pelaku UMKM, Berikut Syarat dan Cara Pengajuannya
Dengan penambahan kuota hingga 25.000 unit, BRI menegaskan peran strategisnya dalam mewujudkan Indonesia tanpa backlog perumahan.
Langkah ini sekaligus mendukung pencapaian target 3 juta rumah yang dirancang pemerintah untuk mengatasi ketimpangan kepemilikan hunian.
Langkah kolaboratif antara BRI, pemerintah, dan BP Tapera menjadi bukti bahwa impian memiliki rumah bukan lagi hal yang jauh dari jangkauan, terutama bagi MBR yang selama ini terkendala akses pembiayaan.
“Kepemilikan rumah adalah hak dasar, dan kami berkomitmen untuk membantu mewujudkannya bagi sebanyak mungkin rakyat Indonesia,” tutup Hery Gunardi.