Legenda Si Pitung: Robin Hood Betawi yang Ditakuti Penjajah

Jumat 25-07-2025,16:07 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Ahmad menyetujui tawaran tersebut dengan satu syarat: semua hasil rampasan harus dibagikan kepada masyarakat miskin dan tertindas. 

Ia pun menjadi pemimpin kelompok tersebut, yang kemudian dikenal sebagai komplotan Pitung.

Si Pitung dan kelompoknya mulai menargetkan orang-orang kaya, terutama tuan tanah dan penguasa Belanda yang selama ini memperkaya diri dari penderitaan rakyat. 

Salah satu target mereka adalah seorang tuan tanah keturunan Bugis yang kaya raya. Dengan menyamar sebagai petugas pemerintah, Si Pitung berhasil mengelabui sang tuan tanah dan mengambil harta bendanya untuk dibagikan kepada masyarakat miskin.

BACA JUGA:Sidak Ritel Modern, Diskopdag Pastikan Beras Diduga 'Oplosan' Sudah Ditarik dari Lampung Barat

Aksi-aksi semacam ini membuat Si Pitung semakin dikenal dan dicintai rakyat, namun juga membuatnya diburu oleh aparat Belanda. 

Pemerintah kolonial tidak tinggal diam. Mereka menganggap Pitung sebagai ancaman besar dan mengumumkan sayembara dengan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.

Namun, Si Pitung bukan orang biasa. Ia dikenal licin, lihai dalam bela diri, dan bahkan dikabarkan memiliki kesaktian. 

Beberapa cerita menyebutkan bahwa ia kebal terhadap peluru dan hanya bisa dikalahkan bila kesaktiannya hilang.

BACA JUGA:Syarat Lengkap KUR BRI Rp100 Juta Tanpa Jaminan

Berbagai usaha dilakukan pemerintah kolonial untuk menangkapnya, namun selalu gagal. Hingga suatu hari, seorang kepala polisi Belanda bernama Van Hinne memimpin penyergapan terhadap Si Pitung.

Berdasarkan informasi dari penduduk yang menjadi mata-mata, mereka mengetahui keberadaan Pitung di sekitar Tanah Abang.

Dalam pengepungan tersebut, Si Pitung mencoba melawan juga melarikan diri. Namun, ia tertembak di bagian kaki, lalu di bagian dada. Ia pun gugur. 

Konon, sehari sebelumnya, ia telah memotong rambutnya, yang dipercaya menjadi sumber kekebalannya. Tanpa kekuatan gaib itu, ia tak mampu melawan senjata para penjajah.

BACA JUGA:Proses Replikasi Virus dan Dampaknya terhadap Tubuh Manusia

Jenazahnya dimakamkan di kawasan Kebon Jeruk, dan hingga kini, makamnya masih sering diziarahi masyarakat Betawi yang menganggapnya sebagai pahlawan sejati.

Kategori :