Akibatnya, tatanan yang telah dibangun turun-temurun bisa hancur perlahan-lahan.
BACA JUGA:JDM Fest 2025 Jadi Magnet Otomotif, Peserta Usulkan Digelar Dua Hari
“Bayangkan kalau semua orang mengaku-ngaku bangsawan, membuat gelarnya sendiri, atau menyebut rumahnya istana adat—lalu anak-anak kita belajar dari contoh palsu itu. Maka tamatlah adat kita,” ucapnya dengan nada prihatin.
Sebagai penutup, ia menyerukan kepada seluruh masyarakat adat Lampung, baik dari Saibatin maupun Pepadun, untuk tidak mudah terbuai oleh simbol-simbol kosong.
Sebagai penutup, Khadin Demang Penujuk Khalis menyampaikan pesan mendalam bagi seluruh masyarakat Lampung, terutama generasi muda,
“Adat adalah pelita zaman. Ia bukan sekadar warisan, tapi penuntun arah di tengah perubahan. Jika hari ini kita mulai memalsukan gelarnya, menyelewengkan maknanya, maka kelak yang tersisa hanyalah simbol-simbol tanpa jiwa. Jangan wariskan kebingungan kepada anak-cucu kita. Wariskanlah kebenaran yang jernih, martabat yang utuh, dan adat yang hidup dalam kehormatan.”
BACA JUGA:Menguasai Pusat Gaya Hidup Kota, Inilah Para Konglomerat di Balik Mal-Mal Raksasa Jakarta
Ia mengajak semua pihak untuk kembali pada tatanan yang sahih, berdiri di atas nilai kejujuran, dan menjunjung adat sebagai ruh kolektif masyarakat Lampung.
Karena menjaga adat, sejatinya adalah menjaga harga diri kita sebagai orang Lampung.