Hasilnya mencengangkan: kedua pendekatan menunjukkan peningkatan pembakaran lemak yang serupa.
Artinya, hanya dengan mengurangi karbohidrat dua hari dalam seminggu, seseorang bisa memperoleh manfaat metabolik setara puasa intermiten.
Temuan ini membuka peluang bagi mereka yang sulit berkomitmen dengan puasa ketat.
Dengan hanya menghindari makanan tinggi karbohidrat seperti nasi, roti, mie, dan gula selama dua hari seminggu, kita tetap bisa mendapatkan manfaat kesehatan tanpa merasa kelaparan.
BACA JUGA:Ingin Panjang Umur? Ini 4 Kebiasaan Sederhana agar Bisa Hidup hingga 100 Tahun
Metode ini juga jauh lebih fleksibel dan mudah disesuaikan dengan rutinitas sehari-hari. Bagi mereka yang membutuhkan energi untuk beraktivitas tetapi ingin menjaga kesehatan metabolik, pengurangan karbohidrat secara berkala bisa menjadi solusi efektif dan berkelanjutan.
Meskipun puasa intermiten tetap memiliki tempat tersendiri dalam dunia kesehatan, strategi diet dengan fokus pada pembatasan karbohidrat patut dipertimbangkan.
Dalam dunia modern yang serba cepat, pendekatan ini terasa lebih realistis dan tidak terlalu membebani.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami efek jangka panjangnya, namun satu hal yang jelas: kesehatan tidak selalu harus dicapai lewat kelaparan.