Kinerja ekspor juga tidak memberikan harapan baru. Sepanjang kuartal I 2025, ekspor Indonesia mencatat penurunan sebesar 7,53% secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh merosotnya harga komoditas unggulan dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa, yang tengah mengalami krisis dan tekanan internal.
Selain itu, gejolak nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor krusial yang memperparah ketidakpastian.
Rupiah sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS sebelum akhirnya kembali menguat ke kisaran Rp 16.500-an.
BACA JUGA:Pemprov Lampung Siap Gelar Upacara Hari Kebangkitan Nasional
Fluktuasi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik global serta ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, yang mendorong arus modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Kondisi ini membuat ruang gerak kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga sebanyak dua kali sejak September 2024, pelonggaran moneter belum mampu memberikan dampak signifikan, terutama karena beban biaya pinjaman yang masih tinggi dan adanya hambatan struktural lain seperti ketidakpastian hukum dan efisiensi birokrasi.
Secara keseluruhan, pelambatan ekonomi Indonesia di awal tahun ini mencerminkan perlunya koordinasi lintas sektor yang lebih agresif untuk mengatasi tantangan daya beli, investasi, hingga stabilitas makroekonomi.
Dunia usaha menanti langkah konkret dari pemerintah untuk menciptakan kepastian dan iklim usaha yang kondusif dalam menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kompleks. (*)